Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah

SEJARAH RINGKAS LAHIRNYA

 SHOLAWAT WAHIDIYAH

Sesudah menerima alamat ghoib tersebut Beliau sangat prihatin. Kemudian mencurahkan / memusatkan kekuatan bathiniyah, bermuja-hadah (istilah Wahidiyah), bermunajat / mendekatkan diri kepada Alloh I  memohon bagi kesejahteraan ummat masyarakat, terutama perbai-kan mental / akhlaq dan kesadaran kepada Alloh I wa Rosuulihi r. Do’a-do’a / amalan yang Beliau perbanyak adalah do’a sholawat, seperti Sholawat Badawiyah, Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiyat, Sholawat Masisiyah dan masih banyak lagi. Boleh dikatakan bahwa hampir seluruh doa yang beliau amalkan untuk memenuhi maksud alamat ghoib tersebut adalah do’a Sholawat. Seakanakan boleh dikatakan bahwa seluruh waktu beliau tidak ada yang tidak dipergunakan untuk membaca sholawat. Suatu contoh ketika bepergian dengan naik sepeda, beliau memegang stir sepeda dengan tangan kiri, sedang tangan kanan Beliau dimasukkan ke dalam saku baju untuk memutar tasbih. Untuk amalan Sholawat Nariyah misalnya Beliau sudah terbiasa mengkhatamkannya dengan bilangan 4444 kali dalam tempo kurang lebih 1 (satu) jam.        Pada awal bulan Juli 1959. Hadlrotus Syekh Al-Mukarrom Romo KH Abdoel Madjid Ma’roef, Pengasuh Pesantren Kedunglo, Desa Bandar Lor, Kota Kediri, menerima “alamat ghoib”- istilah Beliau – dalam keadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Maksud dan isi alamat ghoib tersebut kurang lebih: “supaya ikut berjuang memperbaiki mental masyarakat lewat jalan bathiniyah”.

Banyaknya bilangan bacaan yang ditempuh dalam waktu sesing-kat itu bagi Beliau tidaklah mustahil. Itulah yang dinamakan “KAROMAH” yang diberikan oleh Alloh I kepada sebagian Waliyulloh. Karomah tersebut lazimnya disebut “thoyyul-waqti” (melipat/menyingkat waktu) sebagaimana karomah yang serupa yang disebut “thoyyul-ardli” (melipat/ memperpendek jarak bumi). Yakni suatu jarak / jangka waktu yang umumnya harus ditempuh dalam waktu yang lama (beberapa jam/hari/ minggu), bagi sebagian waliyulloh yang diberi karomah di bidang itu bisa ditempuh hanya beberapa saat saja. Bahkan ada yang hanya dalam waktu sekejap mata. Dalam Al Qur an, Alloh I menghikayahkan seorang pengikut Nabi Sulaiman u yang diberi kemampuan mendatangkan singgasana Ratu Bilqis di hadapan Nabi Sulaiman u dalam waktu sekejap mata :

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الكِتَابِ إِنّآ آتـِيْكَ بِهِ قَبْلَ أنْ يَّرْتَدَّ إِلَيْكَ طـَرْفكَ   (النمل 40)

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari kitab “aku akan mendatangkan singgasana itu kepadamu sebelum kamu berkedip”  (Q.S. An Namli 40).

            Pada awal Tahun 1963 Beliau menerima alamat ghoib lagi, seperti yang Beliau terima pada tahun 1959. Alamat yang ke dua ini bersifat peringatan terhadap alamat ghoib yang pertama. Maka Beliaupun mening-katkan mujahadah / ber-dhepe-dhepe-nya kepada Alloh I, sehingga kondisi fisik / jasmani Beliau sering terganggu, namun tidak mempenga-ruhi kondisi bathiniyah Beliau.

              Tidak lama dari alamat ghoib yang ke dua itu, masih dalam tahun 1963, beliau menerima lagi alamat ghoib dari Alloh I,  untuk yang ke tiga kalinya. Alamat yang ke tiga ini lebih keras lagi dari pada yang kedua “Malah kulo dipun ancam menawi mboten enggal-enggal ngelaksanaaken” (malah saya diancam kalau tidak cepat-cepat melaksanakan). Demikian kurang lebih penjelasan beliau “Saking kerasipun peringatan lan ancaman, kulo ngantos gemeter sak bakdanipun meniko” (karena kerasnya peri-ngatan dan ancaman, saya sampai gemetar sesudah itu), tambah Beliau. Sesudah itu semakin bertambahlah prihatin, mujahadah, taqorrub dan permohonan Beliau ke Hadlirot Alloh I.

          Dalam situasi bathiniyah yang senantiasa ber-tawajjuh ke Hadlirat Alloh I wa Rosulihi  r itu (masih dalam tahun 1963), beliau menyusun suatu do’a sholawat. ”Kulo lajeng ndamel oret-oretan” (saya lalu membuat coretan), istilah Beliau. “Sak derenge kulo inggih mboten angen-angen badhe nyusun sholawat” (sebelumnya saya tidak berangan-angan menyusun Sholawat). Beliau menjelaskan : “Malah anggen kulo ndamel namung kalian nggloso” (bahkan dalam menyusun saya hanya dengan tiduran).

          Yang dimaksud do’a sholawat yang baru lahir dari kandungan bathiniyah yang bergetar dalam frekuensi tinggi kepada Alloh I wa Rosuulihi, r bathiniyah yang diliputi rasa tanggung jawab dan prihatin terhadap ummat masyarakat, adalah Sholawat sebagai berikut :

         اَللّهُمَّ كَمَآ أَنـْتَ أَهْـلُهْ , صَـلّ وَسَـلّمْ وَبـَارِك ْعَـلَىسَـيّــدِنـَا وَمَــوْلانَـا وَشَفِـيْعِنَا وَحَبِـيْبـِنَا وَقُـرَّة ِأَعْـيُـنِـنَا مُحَـمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كمَا هُوَ أَهْـلُهْ , نَسْـأَلُكَ اللّـهُمَّ بـِحَقِّهِ أَنْ تُغْرِقَـنَا فِى لُجَّةِ بَحْر الْوَحْدَةْ , حَتَّى لا نَرَى وَلانَسْمَعَ ولا نَجِدَ وَلاَ نُحِسَّ وَلا نَـتَحَرَّك وَلا نَسْكُنَ إِلاّ َّبِهَا , وَتَرْزُقَــنَا تَمَـامَ مَغْـفِرَتِكْ , وَتَمَامَ  نِعْمَتـِك ْ, وَتَمَامَ مَعْرِِفَـتِكْ , وَتَمَامَ مَحَبَّـتِـكْ , وَتَـمَامَ رضْـوَانِكْ , وَصَـلّ وَسَلِّمْ وَبَاركْ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهْ , عَدَدَ مَآ أَحَاط بهِ عِلْمُك وَأَحْصَـاهُ كِتَابُكْ , بِرَحْمَـتِكَ يـَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن , وَالْحَـمْـدُ  ِللهِ رَبّ ِالْـعَالَمِــْين

“Niki kulo namekaken Sholawat Ma’rifat” (Ini saya namakan Sholawat Ma’rifat), penjelasan Beliau.

                Dalam sholawat tersebut belum ada kalimat “يَآ أَلله” setelah kalimat  ” تــَمَامَ  مَـغْـفِـــرَتـِك ”  dan seterusnya seperti yang ada sekarang ini .

                Kemudian Beliau menyuruh tiga orang supaya mengamalkan sholawat yang baru lahir tersebut. Tiga orang yang Beliau sebut sebagai pengamal percobaan itu ialah Bapak Abdul Jalil (almarhum) seorang tokoh tua (sesepuh) dari desa Jamsaren, Kota Kediri, Bapak Mukhtar (seorang pedagang dari desa Bandar Kidul, Kota Kediri), dan seorang santri pondok Kedunglo yang bernama Dakhlan, dari Demak, Jawa Tengah. Alhamdu lillah, setelah mengamalkan sholawat tersebut mereka menyampaikan kepada Beliau bahwa mereka dikaruniai rasa tenteram dalam hati, tidak ngongso-ngongso dan lebih banyak ingat kepada Alloh I. Setelah itu Beliau menyu-ruh lagi beberapa santri pondok supaya mengamalkannya. Alhamdulillah, hasilnya juga sama seperti yang diperoleh oleh tiga orang tersebut di atas.

Beberapa waktu kemudian (masih dalam tahun 1963) bertepatan dengan bulan Muharram Beliau menyusun Sholawat lagi yaitu :

      اَللَّهُمَّ يَاوَاحِـدُ يَآ أَحَدْ , يَـاوَاجِـدُ يَاجَوَادْ , صَلّ وَسَلِّـمْ وَبَاركْ عَلَى سَـيّـِِدِنـَا مُحَـمَّدٍ وَّعَـلَى آلِ سَيـِّدِنـَا مُحَمَّدْ , فِىكُلِّ لـَمْحَة ٍ وَّنَـفَسٍ بِعَـدَدِ مَـعْلُوْمَاتِ اللهِ وَفُـيُـوْضَاتِهِ وَأَمْدَادِهْ

          Sholawat tersebut kemudian diletakkan pada urutan pertama dalam susunan Sholawat Wahidiyah. Karena lahirnya Sholawat ini pada bulan Muharram, maka Beliau menetapkan bulan Muharram sebagai bulan kelahiran Sholawat Wahidiyah yang diperingati ulang tahunnya dengan pelaksanaan Mujahadah Kubro Wahidiyah pada setiap bulan tersebut.

             Untuk mencoba khasiat sholawat yang kedua ini, Beliau menyuruh beberapa orang supaya mengamalkannya, Alhamdulillah, hasilnya lebih positif lagi. Yaitu mereka dikarunia oleh Alloh I, ketenangan bathin dan kesadaran hati kepada Alloh I yang lebih mantap.

       Semenjak itu Beliau memberi ijazah Sholawat “أَحَـــد  اَللـــَّــهُمَّ يَاوَاحـــِــدُ يَآ ْ  dan اَللّـهُــمَّ كــَمَآ أَنــْتَ أَهْـلــُهْ  tersebut secara umum, termasuk para tamu yang sowan (berziarah) kepada Beliau. Disamping itu, Beliau menyuruh seorang santri untuk menulis sholawat-sholawat tersebut dan mengirimkannya kepada para ulama / kyai yang diketahui alamatnya dengan disertai surat pengantar yang beliau tulis sendiri. Isi surat pengantar itu antara lain; agar sholawat yang dikirim itu bisa diamalkan oleh masyarakat setempat. Sejauh itu tidak ada jawaban negatif dari para ulama / kyai yang dikirimi.

                 Dari hari ke hari semakin banyak yang datang memohon ijazah amalan Sholawat Wahidiyah. Oleh karena itu Beliau memberikan ijazah secara mutlak. Artinya disamping diamalkan sendiri supaya disiarkan / disampaikan kepada orang lain tanpa pandang bulu.

            Sejak sebelum lahirnya Sholawat tersebut, di masjid Kedunglo setiap malam Jum’at (secara rutin) diadakan pengajian kitab Al-Hikam yang dibimbing langsung oleh Hadhrotul Mukarrom Muallif sendiri. Pengajian tersebut diikuti oleh para santri, masyarakat sekitarnya dan beberapa kyai dari sekitar kota Kediri. Pada suatu pengajian rutin tersebut, Sholawat “ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH …..” ditulis di papan tulis dan Beliau menerangkan / menjelaskan hal-hal yang terkandung di dalamnya, kemudian memberi ijazah secara mutlak pula untuk diamalkan dan disiarkan disamping Sholawat “ALLOOHUMMA YAA WAAHIDU…”.

                Dengan semakin banyaknya orang yang memohon ijazah dua sholawat tersebut, maka untuk memenuhi kebutuhan, Bapak KH Mukhtar, Tulung agung, seorang pengamal Sholawat Wahidiyah yang juga ahli khoth (kaligrafi / tulis Arab) membuat lembaran Sholawat Wahidiyah yang terdiri dari “ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH …..” dan “ALLOOHUMMA YAA WAAHIDU .…”. Pembuatannya menggunakan stensil yang sederhana dan dengan biaya sendiri serta dibantu oleh beberapa orang pengamal dari Tulungagung .

Pengajian kitab Al-Hikam yang dilaksanakan setiap malam Jum’at itu, atas usulan dari para peserta yang menjadi Pegawai / Karyawan, dirobah menjadi hari Minggu pagi sampai sekarang. Sebelum pengajian kitab Al-Hikam didahului dengan Sholat Tasbih berjama’ah dan Mujahadah Sholawat Wahidiyah. Pada suatu Pengajian kitab Al-Hikam (masih dalam tahun 1963) Beliau menjelaskan tentang “HAQIQOTUL WUJUD” sampai pengertian dan penerapan “BIHAQIQOTIL MUHAMMA-DIYYAH” yang  dikemudian hari disempurnakan dengan penerapan “LIRROSUL-BIRROSUL”. Pada saat itu tersusunlah Sholawat yang ke tiga yaitu :

عَلَـِيْكَ نـُوْرَ الْخَلْقِ هَـادِيَ اْلأَنَامْ

فَـقَــدْ ظَـلَـمْـتُ أَبـَدًا وَّرَ بّـنـِـىْ

فـَإ ِنْ تـَرُدَّ كُـنْـتُ شَـخـْصًا هَالِكَا

*

*

*

يَاشَـافِـعَ الْخَلْقِ الصَّلاَة ُ وَالسَّلاَمْ

وََأَصْــلَـهُ وَرُوْحَــه ُ أَدْرِكـْـــنــِى

وَلَيـْــسَ  لِى يَا سَـيِّـدِىْ سِـوَاكـَا

Sholawat yang ke tiga ini disebut “SHOLAWAT TSALJUL QULUB” (Sholawat salju hati / pendingin hati). Nama lengkapnya “SHOLAWAT TSALJUL GHUYUUB LITABRIIDI HAROROTIL-QULUUB” (Sholawat Salju dari alam ghoib untuk mendinginkan hati yang panas).

     Ketiga rangkaian Sholawat tersebut diawali dengan surat Al-Fatihah, diberi nama“SHOLAWAT WAHIDIYAH”. Kata “WAHIDIYAH” diambil sebagai tabarukan (mengambil berkah) salah satu dari “ASMAUL HUSNA” yang terdapat dalam Sholawat yang pertama, yaitu “WAAHIDU”, artinya “MAHA SATU”. Satu tidak bisa dipisah-pisahkan lagi. Mutlak SATU AZALAN WA ABADAN. “SATU” bagi Alloh I tidak seperti “satu”-nya” makhluq.

 Para ahli mengatakan, bahwa diantara khowas (hasiat) AL-WAAHIDU, adalah menghilangkan rasa bingung, sumpek, resah / gelisah dan takut. Barang siapa membacanya 1000 kali dengan sepenuh hati dan khudlu’, maka dia dikaruniai Alloh I tidak mempunyai rasa takut / khawatir kepada makhluq, di mana takut kepada makhluq itu adalah sumber dari segala balak / bencana di dunia dan akhirat. Dia hanya takut kepada Alloh I saja ! Barang siapa memperbanyak dzikir “AL-WAAHIDU AL-AHAD” atau “YAA WAAHIDU YAA AHADU” maka Alloh I membuka hatinya untuk sadar bertauhid / memahaesakan Alloh I/ sadar Billah.

    Pada tahun 1963, diadakan pertemuan / silaturrahmi yang diikuti oleh para ulama / kyai dan tokoh masyarakat yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang dan Mojokerto bertempat di Langgar (Musholla) Bapak KH. Abdul Jalil (Almar-hum) Jamsaren – Kediri. Musyawarah tersebut dipimpin oleh Hadlrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah sendiri. Diantara hasilnya adalah susunan redaksi / kalimat yang ditulis di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah, termasuk garansi / jaminan. Mengenai redaksi jaminan / garansi itu atas usulan dari Beliau dan disetujui oleh seluruh peserta musyawarah. Redaksinya adalah : “MENAWI SAMPUN JANGKEP 40 DINTEN BOTEN WONTEN PEROBAHAN MANAH, KINGING DIPUN  TUNTUT DUN-YAN WA UKHRON” -“Kedunglo Kediri”

           Pada awal tahun 1964, menjelang peringatan ulang tahun lahir-nya Sholawat Wahidiyah yang pertama (EKA WARSA) dalam bulan Muharram, Lembaran Sholawat Wahidiyah mulai dicetak dengan klise yang pertama kalinya di kertas HVS putih sebanyak + 2500 lembar. Yang mengusahakan klise dan percetakan itu Bapak KH Mahfudz dari Ampel-Surabaya, atas biaya dari Ibu Hj. Nur AGN (almarhumah), Surabaya. Susunan dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah yang dicetak adalah : Hadiah fatihah, “ALLOOHUMMA YAA WAAHIDU…………..”, ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH ………..……”, “YAA SYAAFI’AL KHOLQIS-SHOLAATU WASSALAAM ………” tanpa “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH” dengan dilengkapi keterangan tentang cara pengamalannya dan termasuk garansi tersebut di atas.

Setelah lembaran Sholawat Wahidiyah dengan susunan di atas beredar secara luas, disamping banyak yang menerima, juga ada yang menolak / mengontrasinya. Kebanyakan alasan para pengontras adalah adanya garansi : Menawi sampun jangkep sekawan doso dinten boten wonten perobahan manah, kenging dipun tuntut dun-ya wa ukhro -“Kedunglo Kediri”. Mereka memberikan penafsiran tentang garansi dengan pemahaman yang jauh bertentangan dengan makna sebenarnya. Pemahaman mereka terhadap “garansi” menjadi : “Barang siapa mengamalkan Sholawat Wahidiyah dijamin masuk surga”.

      Sebenarnya kalimat garansi / pertanggungjawaban tersebut merupakan suatu ajaran atau bimbingan agar kita meningkatkan rasa tanggung jawab dengan segala konsekwensi kita terhadap segala sesuatu yang kita lakukan; Bahasa populernya “berani berbuat, berani bertanggung jawab”.

Masih pada tahun 1964, setelah pelaksanaan peringatan ulang tahun Sholawat Wahidiyah yang pertama, di Kedonglo diadakan Asrama Wahidiyah I yang diikuti para kyai dan tokoh agama dari daerah Kediri, Blitar, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Malang, Madiun dan Ngawi. Asrama ini dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam. Kuliah-kuliah Wahidiyah diberikan langsung oleh Beliau sendiri. Di dalam Asrama ini lahirlah kalimat nidak “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH”. Untuk melengkapi amalan Sholawat Wahidiyah yang telah ada, kalimat nidak tersebut dimasukkan dalam lembaran Sholawat Wahidiyah. Lembaran Sholawat Wahidiyah yang berisikan tiga rangkaian itu beredar dengan tidak ada perubahan sampai awal tahun 1968.

   Asrama Wahidiyah II selama 6 (enam) hari, dari Senin sampai Ahad tanggal 5 –11 Oktober 1965 di Kedunglo. Di dalam Kuliah Wahidiyah yang Beliau sampaikan, antara lain Beliau mnerangkan tentang GHOUTSUZ ZAMAN dengan panjang lebar. Pada saat itu lahir dari kandungan Beliau :

عَـلَــيْـكَ رَبـّـــِنيْ بِـإذْنِ الله

*

يَآ أَيّـُـهَـا الْـغَوْثُ سَــــلا َمُ الله ْ

مُـوْصِلَـةٍ لـّلْحَـضْـرَةِ الْـعَـلِـيَّةْ

*

وَانـْظـُرْ إِلـَىَّ سَـيّــدِىْ بِنَـظــْرَة ْ

           Amalan tersebut merupakan suatu jembatan emas yang menghu-bungkan tepi jurang pertahanan nafsu di satu sisi dan tepi kebahagiaan yang berupa kesadaran kepada Alloh I wa Rosuulihi, Shollalloohu ‘alaihi wasallam di sisi lain. Para Pengamal Sholawat Wahidiyah menyebutnya “ISTIGHOTSAH”. Ini tidak langsung dimasukkan ke dalam rangkaian Sholawat Wahidiyah dalam lembaran-lembaran yang diedarkan kepada masyarakat. Tetapi para Pengamal Wahidiyah yang sudah agak lama dianjurkan untuk mengamalkannya terutama dalam mujahadah-mujaha-dah khusus.

      Pada tahun 1965 Beliau memberi ijazah lagi berupa kalimat nida’ ففروا الى الله dan وقــــل جــــاء الحـــــق  Kalimat nidak ini pada saat itu juga belum dimasukkan dalam rangkaian pengamalan Sholawat Wahidiyah, tetapi dibaca oleh imam dan makmum pada akhir setiap do’a. Begitu juga “WAQUL JAA-AL HAQQU…” belum dirangkaikan dengan “FAFIRRUU ILALLOOH” seperti sekarang. Tentulah ini suatu kebijaksanaan yang mengandung berbagai macam hikmah dan sirri-sirri yang kita tidak mampu menguraikan, tegasnya kita tidak mengetahuinya.

Pada tahun 1968 lahir Sholawat :

عَـلَى مُحَـمَّـدٍ شَـفِــيْـعِ اْلأُمَــمِ

يـَارَ بّـَنـَا اللـّــهُـمَّ  صَـلّ سَلّــِمِِ

بـِالْـوَاحـِدِيـَّة ِلِـرَبّ الْـعَالَمِـيْن

وَاْلآلِِ وَاجْـعَـلِ اْلأَنـَـامَ مُسْـرِعِـيْن

قَـرّبْ وَأَلّـِفْ بـَيْـنَـنَـا يـَارَبَّـــنَا

يـَارَبَّنَا اغــْفِرْ يَسّـِرافْتـَحْ وَاهْدِنـَا

            Kemudian “YAA AYYUHAL GHOUTSU….” dan Sholawat ini dima-sukkan ke dalam lembaran Sholawat Wahidiyah yang diedarkan kepada masyarakat.

    Pada tahun 1971, menjelang Pemilu di negara kita, lahirlah Sholawat :

صَـلاَتُـهُ عَـلَـيْكَ مَـعْ سَـلا َمِـهِ

يَاشَافِـعَ الـْخَــلْقِِ حَبـِيـْبَ الله

خُـذْ بِيَـدِىْ يَا سَـيّـِدِىْ وَاْلأُ مَّـةِ

ضَلَّتْ وَضَـلَّتْ حِيْلَـتِـىفِىبَلْدَتِى

يَا سَـيّـِدِيْ   يَا رَسُـــوْلَ  الله

            Kemudian Sholawat ini dimasukkan ke dalam lembaran Sholawat Wahidiyah diletakkan sesudah “YAA AYYUHAL GHOUTSU…” sebelum “YAA ROBBANALLOOHUMMA SHOLLI….”

            Pada tahun 1972 Beliau menambah do’a : “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WA HAADZIHIL BALDAH” (belum ada kalimat “YAA ALLOOH”).

            Pada tahun 1973 bacaan nidak “FAFIRRUU ILALLOOH” dirangkaikan dengan “WAQUL JAA-AL HAQQU…” dan didahului dengan do’a :

بِسْـمِ اللهِ الـَّرحْمــنِ الرَّحِـيْـم .اللّـهُـمَّ بـِحَـقّ اسْمِـكَ اْلأَعْـظـَــمْ , وَبـِجَـاهِ سَــيّـِـدِنـَا مُحَـمَّـدٍ صَلـَّى الله ُعَـلَـيْه ِوَسَـلـَّـمْ , وَبِـبَرَكَـةِ غـَــوْثِ هَـذَا الزَّمَـــانْ وَأَعْوَانِـهِ وَسَـآئـِرِ أَوْلِيَـآئِكَ يـَآ أَلله , يـَآ أَللهْ , يـَآ آللهْ , رَضِىَ اللهُ تَعَالَىعَـنْـهُمْ × 3)  بَـلّـِغْ جَـمِيْعَ الـْعَالَمِــيْنَ نـِدَآءَنـَا هَـذَا وَاجْــعَـلْ فِـيْـهِ تـَأْثِـــيْرًا بـَلِـيْغًـا ×3) فـَإِنـَّك َعَـلَى كُلّ شَـيْـئِ  قَدِيـْـر, وَبِـاْلإِجَـابـَةِ جَدِيْـر ×3)

 فَـفِرُّوآ إِلَى الله ْ× 7) وَقُـلْ جَآءَ الْحَـقُّ وَزَهَـقَ الْـبَاطِلُط  إِنَّ الْـبَاطِلَ كـَانَ زَهُـوْقًا × 3)

            Pada tahun 1975 itu pula mulai dilaksanakan nida’ “FAFIRRUU ILALLOOH” dengan berdiri menghadap empat penjuru yaitu pada saat acara Mujahadah dalam rangka peletakan batu pertama Masjid Desa Tanjungsari Tulungagung (Masjid KH. Zaenal Fanani)

            Demikian penambahan dan penyempurnaan Sholawat Wahidiyah secara berangsur seirama dengan pengembangan dan penyempurnaan Ajaran Wahidiyah yang diberikan oleh Hadhrotul Mukarrom Romo Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi di dalam ummat masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri.

            Pada tahun 1978 Beliau menambah do’a “ALLOOHUMMA BAARIK FII HAADZIHIL-MUJAAHADAH YAA ALLOOH” yang diletakkan sesudah “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WAHAADZIHIL BALDAH”.

         Tahun 1980 ada tambahan dalam Sholawat Ma’rifat, yaitu sesudah bacaan “WATARZUQONAA TAMAAMA MAGHFIROTIKA” ditambah “YAA ALLOOH”. Demikian juga setelah “WATAMAAMA NI’MATIKA” dan seterus-nya sampai  “WATAMAAMA RIDLWAANIKA” Jadi sebagaimana dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah sampai sekarang.

        Tahun 1981 doa “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WAHAADZIHIL BALDAH” ditambah “YAA ALLOOH”, dan doa “ALLOOHUMMA BAARIK FII HAADZI-HIL MUJAAHADAH YAA ALLOOH” dirobah menjadi “WAFII HAADZIHIL MUJAAHADAH YAA ALLOOH”. Sehingga rangkaiannya menjadi “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WAHAADZIHIL BALDAH YAA ALLOOH, WAFII HAADZIHIL MUJAAHADAH YAA ALLOOH”.

            Pada tanggal 27 Jumadil Akhir 1401 H atau tanggal 2 Mei 1981 M Lembaran Sholawat Wahidiyah yang ditulis dengan huruf Al-Qur’an (huruf Arab) diperbaharui dengan susunan yang sudah lengkap dengan disertai petunjuk cara pengamalannya, Ajaran Wahidiyah dan keterangan tentang ijazah dari Beliau secara mutlak. Susunan dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah seperti itu tidak ada perobahan hingga sekarang kecuali beberapa kalimat dalam penjelasan keterangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan aturan bahasa.

         Demikian secara kronologis atau urut, sejarah ringkas lahirnya Sholawat Wahidiyah dari awal sampai penyempurnaan di setiap periode. Setiap penyempurnaan sudah barang tentu memiliki sirri-sirri (rahasia) yang kita tidak mengetahui secara pasti. Hanya ada sebagian dari Pengamal Wahidiyah yang ditunjukkan sirri-sirrinya secara bathiniyah.[1]

RINGKASAN DARI KRONOLOGIS LAHIRNYA

 SHOLAWAT WAHIDIYAH

Tahun 1959  :
S Hadlrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah t menerima alamat ghoib dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) agar Beliau “mengangkat masyarakat” dengan “jalan bathiniyah”.

 

Tahun 1963  :
S

 

S

 

S

 

S

S

S

S

S

Di awal tahun ini Beliau menerima alamat ghoib kedua kalinya seperti yang Beliau terima pada tahun 1959.

Dalam jangka beberapa waktu dari alamat ghoib yang kedua ini,   Beliau menerima alamat ghoib yang sama bahkan lebih keras.

Lahirnya Sholawat Ma’rifat yakni “ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH …”.

Lahirnya Sholawat “ALLOOHUMMA YAA WAAHIDU…”.

Kedua Sholawat tersebut diberi nama SHOLAWAT WAHIDIYAH

Dimulainya penyiaran Sholawat Wahidiyah.

Lahirnya Sholawat yang ketiga tanpa nidak “YAA SAYYIDII…”.

Pencetakan Lembaran Sholawat Wahidiyah yang pertama kali dengan stensil.

 

Tahun 1964  :
S

 

S

 

SS

Ulang Tahun Wahidiyah yang pertama (EKAWARSA) pada bulan Muharram.

Pencetakan Lembaran Sholawat Wahidiyah yang kedua kalinya (sudah menggunakan klise).

Asrama Wahidiyah yang pertama kali.

Lahirnya kalimat nida’ “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH”.

Tahun 1965 :
S

S

 

S

Asrama Wahidiyah yang kedua kalinya.

Lahirnya “YAA AYYUHAL-GHOUTSU…”.

Diamalkannya nidak “FAFIRRUU…” bersama-sama antara imam dan makmum setiap selesai berdo’a.

Tahun 1968 :
S

S

Lahirnya Sholawat “YAA ROBBANALLOOHUMMA SHOLLI…”.

Dimasukkannya “YAA AYYUHAL-GHOUTSU…” dan “YAA ROBBA-NAA…” dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah.

 

 

 

Tahun 1971 :
S

S

Lahirnya Sholawat “YAA SYAFI’AL KHOLQI HABIIBALLOOHI….”

Sholawat ini dimasukkan dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah.

Tahun 1972 :
S Lahirnya do’a : “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WA HAADZIHIL-BALDAH” (tanpa “YAA ALLOOH”).
Tahun 1973 :
S

 

 

S

Lahirnya do’a nida’ “ALLOOHUMMA BIHAQQISMIKAL- A’DHOM …” dan dirangkaikan dengan “FAFIRRUU…” dan “WAQUL JAA-AL-HAQQU…”.

Mulai dilaksanakan nida’ dengan berdiri menghadap empat penjuru serta tasyafu’ dan istighotsah.

Tahun 1978 :
S Lahirnya do’a “ALLOOHUMMA BAARIK FII HAADZIHIL-MUJAAHA-DAH YAA ALLOOH”.
Tahun 1980 :
S =  Tambahan “YAA ALLOOH” dalam Sholawat Ma’rifat setelah bacaan “TAMAAMA MAGHFIROTIKA” dan seterusnya sampai “WA TAMAAMA RIDLWAANIKA”.
 Tahun1981 :
S

 

 

 

S

Tambahan “YAA ALLOOH” setelah bacaan “ALLOOHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA”, dan dihilangkannya kalimat “ALLOOHUMMA” dari do’a “ALLOOHUMMA BAARIK FII HAADZIHIL-MUJAAHADAH YAA ALLOOH”.

Dicetaknya Lembaran Sholawat Wahidiyah secara lengkap sebagaimana yang sampai sekarang ini.

Demikian sejarah ringkas lahirnya Sholawat Wahidiyah. Mudah-mudahan sudah bisa dimanfa’atkan sekalipun masih jauh dari yang diperlu-kan. Semoga Alloh I senantiasa memberikan barokah terhadap Sholawat Wahidiyah dan memberi balasan yang sebanyak-banyaknya kepada Muallif-nya, Hadrotul Mukarrom Romo Kyai Haji Abdoel Madjid Ma’roef t Min Yauminaa Haadzaa Ilaa Yaumil-Qiyaamah. Amiin.

Sejarah ini disusun sebagai salah satu materi dalam Pembinaan Kader Wahidiyah pada tahun 1983, oleh Bapak KH. Muhammad Ruhan Sanusi, dan pernah dimuat dalam Buletin “Kembali” Edisi 03/1993 dan buku Materi Upgrading Pembinaan Wahidiyah terbitan tahun 1989 dan 1994 tanpa ada perobahan dan tambahan.

Kemudian dengan bimbingan dan petunjuk dari penyusun pertama Bapak KH. Moh. Ruhan Sanusi (Ketua Umum DPP PSW periode 1996-2001 dan 2001-2006), Bapak H. Mohammad Syifa (Sekretaris Anggota MTP PSW Periode 2001-2006) dan Bapak Drs. Syamsul Huda (Ketua DPP PSW periode 1996-2001 dan Periode 2001-2006), Sejarah ini ditulis ulang dengan sedikit perobahan redaksi dan tambahan yang tidak mengurangi maksud pokoknya, oleh K. Zainuddin Tamsir (Ketua DPP PSW periode 2001-2006 Bidang Penyiaran & Pembinaan) dan dimasukkan dalam buku “TERJAMAH SHOLAWAT WAHIDIYAH”. Pada tahun 2003 yang lalu dan 2004 ini disalin oleh Team Penyusun Materi untuk disajikan sebagai materi dalam Penataran Da’i Wahidiyah I dan II.

جَعَلَـنَا وَإيَّـاكُـمْ مِنَ الَّـذِيْنَ يَشْفَـعُ لَـهُمْ وَيُـرَبِّـيْهِِمْ رَسُــوْلُ الله e

شَفَـاعَةً وَتَـرْبـِيَةً خَآصَّتَيْنِ فِى الـدِّيْنِ وَالدُّنْـيَا وَالآخِـــرَةْ !  آمــــــــين !

وَبـِاللهِ التَّـوْفـــِيْق وَالْـهِِـدَايَة , وَمِنَ الرَّسُــوْلِ e  الشَّفَـاعَـة .

وَمِنَ الْـغَوْثِ t النَّــظْــرَةْ  وَالْـبَرَكـــَـــة

                                           Jombang, 20 Juli 2005

                                           Dikutip Oleh :

                                           Team Penyusun

                                          Materi Penataran/Pembinaan Wahidiyah

[1]Materi Up Grading Da’i Wahidiyah A, Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, hal 1-11, Kedonglo, th. 1989.

Leave a Reply