HUBUNGAN PENGAMAL WAHIDIYAH TERHADAP MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH

Hubungan Pengamal Wahidiyah terhadap Muallif Sholawat Wahidiyah adalah HUBUNGAN MURID DENGAN GURU. Semua Pengamal Wahidiyah, baik yang ada di dalam negeri maupun yang diluar negeri, baik dari bangsa jin atau manusia, tanpa memandang pangkat dan kedudukan sosial ekonomi, baik Pengamal Wahidiyah biasa maupun fungsionaris PSW, sekalipun dari keluarga Beliau Muallif sendiri, dalam bidang wushul sadar kepada Alloh wa Rosuulihi adalah sebagai Murid Beliau. Mereka yang ikut aktif dalam Perjuangan Wahidiyah oleh Beliau disebut “MAN A’AANA ‘ALAIHAA ILAA YAUMIL QIYAMAH’’. Bahkan semua Pengamal Wahidiyah oleh Beliau diangkat sebagai Wakil Beliau. Ini dalam segi rasa tanggung jawabnya dalam perjuangan “Fafirruu Ilalloohi wa Rosuulihi, ”. (Wasiat 9 Mei 1986).

Baik murid maupun guru ada syarat-syarat yang tidak ringan yang harus dipenuhi. Guru ada macam-macam tingkatannya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bahjatus-Saniyah :

اَلشَّيْخُ عِنْدَ الْمُحَقِّقِيْنَ ثـَلاَثَةٌ : شَيْخُ الْخِرْقَـةِ وَشَيْخُ الذِّكـْرِ أَوْشَيْخُ الْمُعَلِّمِ وَشَيْخُ الصُّحْبَةِ أَوِالشَّيـْخُ الْحَقِيْقِىُّ. وَشَيْخُ الْخِرْقـَةِ أَوَّلاً يَسْرِى حَالُهُ فِى الْخِرْقَةِ ثُمَّ يـَسْرِى فِى الْمُرِيْدِ . فَخِرْقَـُتـُه الَّتِى أَمَدَّتِ الْمُرِيْدَ وَكَذَلِكَ شَيْخُ الْمُعَلِّمِ , فَعِلْمُهُ الَّذِى أَمَدَّ الْمُرِيـْدَ لاَهُوَ. وَهُمَا شَيْخَانِ مَجَازَانِ. بِخِلاَفِ الشَّيْخِ الْحَقِيْقـِىِّ ِلأَنَّهُ الْمُمِدُّ لِلْمُرِيْدِ بِحَالِهِ دُوْنَ وَاسِطَةِ شَىْءٍ بَيْنَ قَلْبِهِ وَقَلْبِ الْمُرِيْدِ.

(Guru (Pembimbing) menurut Ulama Ahli hakikat – ada tiga : (1) Guru Khirqoh, (2) Guru Dzikir atau Guru Muallim dan (3) Guru Shuhbah atau Guru Hakiki. Guru Khirqoh, pertama-tama haliyahnya mengalir melalui khirqoh (jubah)-nya kemudian menyalur kepada murid. Maka khirqohnya yang menarbiyah murid. Begitu juga Guru Muallim, maka ilmunya yang menarbiyah murid, bukan pribadinya. Kedua Guru tersebut disebut “GURU MAJAZI”. Berbeda dengan Guru Hakiki. Yang menarbiyah dan membimbing murid adalah pribadinya tanpa memakai perantara suatu apapun. Langsung antara hati Guru dan hati murid). (Bahjatus-Saniyah, hal. 38).

Guru hakiki dalam membina muridnya seperti Rosululloh , membina Sayyidina Abu Bakar Ash-Siddiq, .

مَا صَبَّ اللهُ فِى صَدْرِىْ إِلاَّ صَبَبْتُ فِى صَدْرِ أَبِى بَكـْرٍ

(MAA SHOBBALLOOHU FII SHODRII ILLAA SHOBABTU FII SHODRI ABII BAKRIN)

(Semua apa yang dituangkan Alloh ke dalam dadku, langsung aku tuangkan ke dalam dada Abu Bakar) (Taqriibul Ushuul).

Muallif Sholawat Wahidiyah mendawuhkan bahwa di dalam Wahidiyah tidak ada istilah Guru dan murid. Itu tawadlu’ Beliau untuk memberikan pelajaran kepada kita para Pengamal Wahidiyah agar selalu tadzallul – merendah diri, jangan sebaliknya !

Guru yang Kamil Mukammil bisa membuka hati muridnya dan mengantarkan wushul sadar kepada Alloh walaupun dari tempat yang jauh. Kita yakin, atas dasar kenyataan bahwa Muallif Wahidiyah mampu membangunkan murid yang masih tidur sekalipun si Pengamal Wahidiyah berada di tempat yang jauh dan belum pernah mengenal pribadi Beliau secara lahiriyah. Muallif Wahidiyah telah mampu mengeluarkan Pengamal Wahidiyah dari hutan belukarnya nafsu dari tempat yang jauh. Beliau telah mampu menjebol/membuldoser ananiyah Pengamal Wahidiyah dari jarak jauh. Bahkan tidak mustahil Beliau, telah merombak mental masyarakat yang kufrun ni’am (mengkufuri ni’mat) menjadi syukrun ni’am (mensyukuri ni’mat). Beliau mampu mengendalikan dan mengerem kebobrokan mental masyarakat. Lebih dari pada itu, Beliau, telah mampu memperbaiki, mengangkat dan mengarahkan kondisi sosial ekonomi masyarakat terutama di kalangan masyarakat Pengamal Wahidiyah yang mengalami bermacam-macam kesulitan hidup. Dan lain-lain kemampuan dan kebesaran yang dimiliki oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah yang sulit diutarakan dengan susunan kata yang pas.

Kalau Hadlrotul Mukarrom Romo Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah pernah berkata : “Jangankan menjadi guru, menjadi murid saja saya belum memenuhi syarat”. Ini memberi pelajaran kepada kita betapa beratnya syarat-syarat menjadi murid yang benar. Antara lain harus menyerah bongkokan kepada Gurunya.

الْمُرِيْدُ عِنْدَ الشَّيْخِ كَالْمَيِّتِ عِنْدَ يَدَىِ الْغَاسِلِ

(AL-MURIIDU ‘INDASY-SYAIKHI KAL-MAYYITI ‘INDA YADAYIL GHOOSILI)

(Seorang murid terhadap Guru harus seperti mayit di bawah kedua tangan orang yang memandikannya).

Ini pengertiannya luas sekali, termasuk menyerah sam’an wa tho’atan wa ta’dhiman wa mahabbatan – menerima dan menjalankan apa saja yang telah dibimbingkan dan digariskan oleh Guru. Di dalam Wahidiyah, kita harus sam’an wa tho’atan dan konsekwen menjalankan apa saja yang telah dibimbingkan dan ditentukan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah . Yaitu Sholawat Wahidiyah, Ajaran Wahidiyah dan kelembagaan Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) yang dibentuk sendiri oleh Beliau yang ditugasi untuk mengatur kebijaksanaan dan sekaligus memimpin pelaksanaan di bidang pengamalan, penyiaran, pembinaan, pendidikan Wahidiyah, dan sarana lain yang diperlukan di dalam Perjuangan Wahidiyah .

Barang siapa yang mengubah, menambah, mengurangi atau tidak mengindahkan ketentuan tersebut, lebih-lebih menyimpang atau menging-kari, maka terjerumuslah ia ke dalam su-ul adab dan termasuk “’Uquuqul-ustadz”– melukai Guru. Padahal ada dawuh dari Masyayikhis Shufiyah :

عُقُوْقُ اْلأُسْتَاذِ لاَتَوْبَةَ لَهُ

(‘UQUUQUL USTAADZI LAA TAUBATA LAHU)

(Melukai Guru itu tidak bisa ditaubati) (Jami’ul Ushul, 105)

Syekh Abu Sahal As-Shu’luuki berkata :

مَنْ قَالَ لأُسْتَاذِهِ “لِِمَ” ؟ لاَيُـفْـلِـحُ

(MAN QOOLA LI-USTAADZIHI “LIMA” LAA YUFLICHU).

(Barang siapa yang berkata kepada Gurunya “mengapa ?”, dia tidak akan bahagia / lulus).

Di dalam Jami’al Ushul fil-Auliyaa, hal, dikatakan :

وَأَمَّا حِفْـظُ حُرْمَةِ الْمَشَايِخِِ وَالتَّـعْظِيْمُ لَهُ وَتَرْكُ الْمُخَالَـفَـةِ فَقَالَ تَعَالَى فِى قِصَّةِ مُوْسَى مَعَ الْحَضِرِِ عَلَـيْهِمَاالسَّلاَمُ “هَلْ أَتَّبـِعُكَ” مِمَّا أَرَادَ الصُّحْبَةَ حِفْـظُ شُرُوْطِ اْلأ َدَبِ فَـاسْتــَأْذَنَ فِيْهَا أَوَّلاً, فَـشَرَطَ عَلَـيْهِ الْـحَضِرُ أَنْ لاَ يُـعَارِضَهُ فِى قوْلِهِ :”فَإِنِ اتَّـبَعْتَـنِى فَلاَ تَسْـأَلْـنِى عَنْ شَىْءٍ” , فَـلَمَّا خَالَـفَـهُ تَجَاوَزَ عَنهُ فِى الْـمَرَّةِ اْلأُوْلَى وَالثَّـانِـيَةِ , فَلَمَّا انْتَهَى إِِلَى الثَّالِثَةِ وَهِىَ أَوَّلُ مَرَاتِبِ الْكَـثْـرَةِ سَأَمَهُ الْفُرْقَةُ “هَذَا فِرَاقُ بَيْنِى وَبَـَيْنِـكَ”

(Dan adapun mengenai hal yang menjaga penghormatan dan pemuliaan kepada Guru serta menghindari penyimpangan kepada Guru, maka Alloh Ta’aala berfirman di dalam kisah Nabi Musa dengan Nabi Khodir ‘alaihimas-salam : “HAL ATTABI’UKA” , apakah aku boleh mengikutimu ? (kata Nabi Musa kepada Nabi Khodir ketika akan berguru), itu setengah dari pada menjaga syarat adab, maka pertama-tama minta izin. Kemudian Nabi Khodlir memberikan syarat agar Nabi Musa tidak menanyakan sesuatu yang dipan-dang kurang sesuai dengan pendapatnya sebelum diberitahu. Yaitu dalam katanya : “Fa-in taba’tanii falaa tas-alnii ‘an syai-in” – jika anda ingin mengikuti dan berguru kepadaku maka jangan sekali-kali menanyakan kepadaku tentang sesuatu; Maka ketika Nabi Musa bersikap menyalahi satu dua kali, masih dimaafkan dan masih bisa terus mengikuti. Maka setelah menyalahi yang ketiga kalinya, dan tiga itu merupakan ukuran banyak yang terkecil, maka dihukumlah Nabi Musa dengan di “furqoh” – putus hubungan : “Hadzaa firooqu bainii wa bainika” – inilah saatnya putus hubungan antara aku dan Anda”.

Di dalam kitab Al-Ibriz, hal. 237 dikatakan :

اَلْمُرِيْدُ الَّذِى يَدْخُلُ فِى صُحْبَـةِ شَيْخٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّ فِى الْوُجُوْدِ شَيْخًا أَوْفـَى مِنْ شَيْخِهِ أَوْ أَكْـمَلَ مِنْـهُ يَبْقـَى مُتَـشَوِّقًا إِلـَى ذَلِكَ اْلأَكْمَلِ فِى اعْتِقَـادِهِ فَـيَرَاهُ شَيْخُـهُ مُتَشَوِّقًا إِلَـيْهِ وَإِنْ كَانَ بَعْـدَ وَفَـاتِهِ فَـيَقْطَـعُ عَنْـهُ الْمَآدَّةُ , فَلاَ يَكُـوْنُ مُنْتَـفِعًا بِاْلأَوَّلِِ وَلاَ بِـالثَّـانِى.

(Seorang murid yang sudah masuk dalam bimbingan seorang Syekh Suhbah (guru wushul) tetapi dia masih memandang bahwa di alam wujud (dunia) ini ada guru wushul lagi yang lebih memenuhi syarat dan lebih sempurna dari pada gurunya, dan ia tetap menginginkan bimbingan darinya dalam i’tikadnya, kemudian kejadian ini diketahui oleh syekhnya sekalipun ia sudah wafat, maka seketika itu pula putuslah hubungan tarbiyyah dari Syekh- (guru pertamanya), dan dia tidak bisa mengambil manfaat dari guru pertama maupun dari guru ke dua).

Dalam kitab Jami’ul-Ushul, hal. 104 disebutkan :

إِنـَّمَا حُرِمُـوا الْـوُصُوْلَ بـِتَضْيِـيْعِ اْلأُصُــوْل ِ

(INNAMAA CHURRIMUL-WUSUULA BITADLYII’IL-USUUL)

(Sesungguhnya mereka terhalang atau gagal dalam perjalanan wushul kepada Alloh, itu disebabkan mereka meninggalkan hal-hal yang pokok / prinsip).

Termasuk hal-hal yang pokok di dalam Wahidiyah adalah tepatnya hubungan Pengamal Wahidiyah dengan Muallif Sholawat Wahidiyah t. Terutama hubungan batiniyah dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan dan bimbingannya). Jadi barang siapa terganggu hubungannya dengan Muallif Sholawat Wahidiyah t, maka tertutuplah jalan wushul kepada Alloh wa Rosulihi r, tertutup pintu nadhroh dan tarbiyah, meskipun masih menga-malkan Sholawat Wahidiyah, masih bermujahadah, masih ikut berjuang secara lahiriyah. Ini adalah masalah bathin !

Dalam kitab Jami’ul Ushul, hal. 104, disebutkan kata Syeh Qusyairi :

وَيَقْـبَحُ بِالْمُرِيْدِ اْلإِنْـتِسَابُ إِلَـى مَذْهَبِ مَنْ لَـيْسَ مِنْ أَهْلِ هَـذِهِ الطَّـرِيْقِ , لأَنَّ النَّاسَ إِمَّا أَرْبَابُ النَّـقْلِ وَالنَّشْرِ وَإِمَّا أَصْحَابُ الْعُقُـوْلِ وَالْـفِكْـرِ. وَشُيُوْخُ هَذِهِ الطَّـآئِـفَـةِ ارْتَقَـوْا عَنْ هَذِهِ الْجُمْلَـةِ , فَالَّـذِى لِلنَّاسِ غُـيُوْبٌ فَهُوَ لَهُمْ ظُهُوْرٌ . وَالَّـذِى لِغَيْـرِهِمْ مِنَ الْمَعَارِفِ مَقْصُـوْدٌ فَلَهُمْ مِنَ اللهِ مَوْجُوْدٌ. فَهُـمْ أَهْلُ الْـوِصَـالِ وَالنَّاسُ أَهْلُ اْلإِسْتِـدْلاَلِ

(Buruk sekali bagi seorang murid ber-intisab (berguru) kepada orang yang tidak membidangi tentang jalannya wushul. Karena manusia itu ada yang ahli Qur-an ada yang ahli hadits dan ada pula yang ahli ‘aqli (intelek). Sedangkan para pembimbing wushul (termasuk Muallif Sholawat Wahidiyah) menguasai segala ilmu-ilmu tersebut. Dan sesuatu yang samar (ghoib) bagi umumnya manusia, bagi para Pembimbing wushul, tetap jelas. Dan pengetahuan yang dituju/digali oleh umumnya manusia, para pembimbing wushul sudah memperolehnya dari Alloh I. Sebab Beliau-beliau Pembimbing wushul sudah sampai pada tujuan, sementara manusia lainnya masih mencari jalan).

Dalam kitab Bahjatus Saniyah, hal. 43 Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’roni berkata :

مَنْ كَانَ مُلاَزِِمًا لِِطَرِيْقَـتِى وَدِيَانَـتِى بِالصِِّيَانَـةِ وَالزُّهْدِ وَالْوَرَعِِ وَقِلَّةِ الطَّمَعِِ فَهُوَ وَلَدِى وَإِِنْ كَانَ مِنْ أَقْصَى الْبَلَدِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنْ أَوْلاَدِى وَ لَوْ كَانَ مِنِ ابْنِ صَلْـبِى

(Barang siapa yang tekun melakukan amalanku dan mematuhi peraturanku dengan menjaga diri, berzuhud, berwara’i, dan sedikit tama’ (dengan ihlas), dia itulah anakku, sekalipun dia berada di negeri yang jauh. Dan barang siapa yang tidak demikian (tidak melakukan amalanku dan tidak mematuhi peraturanku), mereka bukan anak-anakku, meskipun dia dari keturunanku sendiri).

Dalam kitab Al-Hadiiqutun-Nadiyyah, hal.242 dikatakan :

وَمَعْلُـوْمٌ أَنَّ اْلأَوْلِيـآءَ أَحْيَاءٌ فِى قُـبُوْرِِهِمْ وَإِنَّمَايَنْقُلُـوْنَ مِنْ دَارٍِ إِلَـى دَارٍ فَحُرْمَتُـهُمْ أَمْـوَاتًا كَحُرْمَتِهِمْ أَحْيَـآءً وَاْلأَدَبُ مَعَهُمْ بَـعْدَ مَوْتِـهِمْ كَاْلأَدَبِ مَعَهُمْ حَالَ الْحَيَـاةِ وَفِى حَالِ الْمَوْتِ . وَ مِنَ اْلأَوْلِيَـآءِ مَنْ يَنْفَـعُ مُرِيْـدَهُ الصَّادِقَ بَعْدَ مَمَاتِـهِ أَكْـثَرُ مِـمَّايَنْفَعُـهُ حَـالَ حَيَـاتِـهِ

(الحديقة الندية)

(Sudah dimaklumi (secara sar’i) sesungguhnya para Waliyulloh itu tetap hidup dalam alam kuburnya, dan sesungguhnya ia hanya pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Maka menghormatinya setelah wafat harus seperti menghormatinya ketika masih hidup, dan beradab kepadanya setelah wafat harus seperti beradab kepadanya ketika masih hidup dan pada waktu mati.Dan diantara Waliyulloh ada yang manfaatnya kepada muridnya yang sungguh-sungguh (konsekwen) setelah wafatnya lebih banyak dari pada manfaat yang diberikannya ketika masih hidup).

Dikatakan dalam kitab Al Bahjatus Saniyah, hal. 32 :

وَإِذَامَاتَ شَيْخُ اْلإِنْسَانِ وَلَمْ يَجِدْ إِلاَّ مَنْ دُوْنَ شَيْخِهِ فِى الدَّرَجَةِ بِحَيْثُ لاَيَكْفِيْهِ فِى طَرِيـْقِ سُلُوْكِهِ فَلا يَنْبَغِى أَنْ يَنْتـَقـِلَ مِنهُ إِلَيْهِ

(Dan apabila Syekh (guru) seseorang telah meninggal dunia dan dia tidak menemukan (guru) melainkan orang yang derajatnya di bawah Syekhnya, dengan terbukti dia belum mencukupi untuk membimbing perjalanan wushul, maka sayogjanya janganlah berpindah dari Syekh-nya (yang telah meninggal dunia itu) kepada yang baru ditemuinya.

KRITERIA GURU WUSHUL

Kriteria Guru Wushul, menurut keterangan dalam kitab Tanwiirul Quluub, hal. 524, antara lain sebagai berikut :

لِمَنْ يَصِحُّ أَنْ يـَتَّخِذَ شَيْخًا يَكُوْنُ مُرْتَقِيًا فِى مَقَامَاتِ الرِّجَالِ الْكُمَّال شَرْعِيًّا وَحَـقِيْقِيًّا وَسُلُوْكُهُ عَلَـى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاْلإِقْتـِدَاءِ بِالْعُلَمَاءِ وَتَمَّ سَيْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَأْذُوْنًا لَهُ مِنْ شَيْخِهِ بِاْلإِرْشَادِ عَلَى اللهِ تَعَالَى لاَعَنْ جَـهْـلٍ وَلاَ عَنْ حَظِِّ نَفْسٍ , إِذْ لاَيَخْفَى أَنَّ مَنْ تَصَدَّرَ لِذَلِكَ وَهُوَ غَيْرُ أَهْلٍ لَهُ فَمَا يُفْسِدُهُ أَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُهُ وَعَلَيْهِ إِسْمُ قــَاطِعِ الطَّرِ يْقِ

Kriteria orang yang sah menjadi Syekh (Mursyid) antara lain :

  • Telah mencapai tingkatannya orang-orang yang sempurna (kamil-mukammil) baik di bidang syari’at maupun bidang hakikat;
  • Perjalanan hidupnya berlandasan Qur-an dan sunnah Rosul r, dan mengikuti ‘Ulama;
  • Telah memperoleh izin dari gurunya untuk membimbing dan menunjukkan jalan kepada Alloh; dan tidak dengan kebodohan dan dorongan kepentingan nafsu :……: karena tidak diragukan lagi bahwa orang yang menyatakan dirinya sebagai Guru wushul padahal dia tidak membidanginya (bukan ahli pengantar wushul), maka kerusakan yang dilakukannya akan lebih banyak dari pada kemaslahatannya, dan ia berdosa sebagai dosanya pemutus jalan kesadaran kepada Alloh.

Di dalam kitab Unsut-Tauhid, hal. 64, disebutkan :

الشَّيْخُ الْكَامِلُ هُوَ الَّذِى يُسْرِعُ بِاْلأَسْرَارِ إِلَى حَضْرَةِ الْقَهَّارِ وَيُلْحِقُكَ بِاْلأُبُوَّةِ السِّرِّيَّةِ وَاْلأُمُوْمِيـَّةِ الرُّوْحَانِيَّةِ

(Guru kamil ialah guru yang mampu mempercepat proses wushul kepada Alloh Yang Maha Perkasa dengan melalui sirri-sirrinya, yang menemukan kamu sebagai ayah di bidang sirri dan ibu di bidang rohani).

ADAB MURID TERHADAP GURU WUSHULNYA

Disebutkan dalam kitab Tanwiirul-Quluub, hal. 528 :

آدَابُ الْمُرِيْدِ مَعَ شَيْخِهِ كَـثِيْرَةٌ جِدًّا وَاقْتَصَرْنَا عَلــَى بَعْضِ الْمُهِمَّاتِ (۱) وَأَعْظَمُهَا أَنْ يُوَقِّرَ الْمُرِيْدُ شَيْخَهُ وَيُعَظِّمَهُ ظَـاهِرًا وَبَاطِنًا مُعْتَقِدًا أَنَّهُ لاَيَحْصُلُ مَقْصُوْدُهُ إِلا َّعَلَى يَدِهِ وَإِذَا تَشَتَّتَ نَظْرُهُ إِلَى شَيْخٍ آخَرَ حَرَّمَهُ مِنْ شَيْخِهِ وَانْسَدَّ عَلَيْهِ الْفَيْضُ (۲) وَأَنْ يَكُوْنَ مُسْتَسْلِمًا مُنْقَادًا رَاضِيًا بِتصَرُّفَاتِ الشَّيْخِ يَخْدِمُهُ بِالْمَالِ وَالْبَدَنِ (۳) أَلاّ َيَعْتَرِضَ عَلَيْهِ فِيْمَا فَعَلَهُ وَلَوْ كانَ ظَاهِرًا………. (۴) أَنْ لاَيَكُوْنَ مُرَادُهُ بِاجْتِمَاعِهِ عَلَى شَيْخِهِ غَيْرَ التَّقَرُّبِ إِلَى اللهِ (۵) وَأَنْ يَسْلُبَ اخْتـِيَارَ نَفْسِهِ (۶) وَأَنْ لاَيَتَجَسَّسَ عَلَى أَحـْوَالِِ الشَّيْخِ مُطْلَقًا وَأَنْ يُحْسِنَ بــِهِ الظَّنَّ فِى كُل ِّ حَال ٍ (۷) وَأَنْ يُلاَحِظَهُ بِقـَلْبـِهِ فِى جَمِيْعِ أُمُورِهِ سَفَرًا وَحَضَرًا لِيَجُوْزَ بَرَكَتُهُ (۸) أَنْ يُبَادِرَ بِإِتْيَانِ مَاأَمَرَهُ بِهِ بِلاَتـَوَقـُّفٍ وَلاَاِهْمَالٍ مِنِ اسْتِرَاحَةٍ وَلاَسُكُوْنٍ قَبْلَ تَمَامِ اْلأ َمْر ِ (۹) اَلْفِرَارُ مِنْ مَكَارِهِ الشَّيْخ (۱۰)وَأَنْ لاَ يُجَالِسَ مَنْ كــَانَ يَكْرَهُ شَيْخُهُ ويحِبُّ مَنْ يُحِبـُّهُ ……الخ

Adab-adab murid terhadap guru wushulnya banyak sekali. Dan kami ringkaskan sebagian darinya yang sangat penting. Adab-adab murid yang paling tinggi antara lain :

  • Harus menghormat dan memuliakan gurunya lahir bathin, berkeya-kinan bahwa tidak akan berhasil apa yang menjadi maksudnya melainkan atas bimbingan gurunya; dan apabila berpaling pandangannya kepada guru lain, maka terhalanglah hubungan dengan gurunya dan tertutup pula pancaran bimbingannya;
  • Harus menyerah, tunduk dan rela pada kehendak gurunya, dan berkhidmah dengan harta-benda dan jiwa-raganya;
  • Tidak kontras terhadap apa yang diperbuat oleh gurunya, meskipun soal lahir, dan tidak menegurnya dengan kata-kata “mengapa tuan guru melakukan ini ?” Oleh karena orang yang berkata kepada guru-nya “mengapa ?”, dia tidak beruntung selamanya. Sebab terkadang tampak dari guru suatu hal yang kelihatan lahirnya tercela, tapi sebenarnya terpuji menurut pandangan bathin;
  • Berkumpul dengan guru tiada tujuan apa-apa selain untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh I;
  • Harus melebur ikhtiar dirinya ke dalam ikhtiar guru dalam segala urusan, baik secara keseluruhan maupun sebagian, urusan ibadah maupun pengadatan;
  • Tidak mengoreksi perilaku gurunya secara mutlak, dan selalu ber-husnudhon (prasangka baik) kepada gurunya dalam segala bidang;
  • Hatinya selalu merasa bersama gurunya dan menerima bimbingan darinya dalam segala urusan, baik dalam saat bepergian maupun di kediaman, agar memperoleh barokahnya;
  • Segera melaksanakan segala perintah guru tanpa tempo dan menunda-nunda dengan istirahat dan berdiam sebelum selesainya pelaksanaan perintah;
  • Menjauhi segala sesuatu yang dibenci oleh gurunya.
  • Tidak bergaul erat dengan orang yang tidak disenangi oleh gurunya dan mencintai orang yang dicintai oleh gurunya.
  • Tidak duduk di tempat duduk yang dipersiapkan khusus untuk gurunya atau yang biasa digunakan duduk gurunya.
  • Tidak menyampaikan kata-kata gurunya kepada orang lain kecuali seukuran dengan kefahaman dan akal pikiran mereka.

Catatan :

Kriteria guru dan adab-adab murid terhadap guru dalam kitab Tanwiirul Quulub tidak dicantumkan di sini secara keseluruhan, melainkan hanya diambil yang pokok dan sangat dibutuhkan. Begitu juga tentang adab-adab Murid terhadap dirinya sendiri di bawah ini. bagi yang ingin mengetahuinya secara terperinci silahkan melihat sendiri dalam kitab tersebut di atas.

ADAB-ADAB MURID TERHADAP DIRINYA SENDIRI

Hal ini disebutkan dalam kitab Tanwiirul Quluub, hal. 531-534, antara lain :

  • Merasa selalu dipandang dan dilihat oleh Alloh I dan hatinya selalu ingat Alloh kapanpun dan di manapun berada (selalu Lillah-Billah dan seterusnya);
  • Menjauhi orang-orang yang berperilaku buruk (kecuali untuk penyiaran dan pembinaan), dan mendekati orang-orang yang baik;
  • Meninggalkan gila dunia demi kepentingan akhirat;
  • Selalu berkoreksi diri dan berusaha meningkatkan diri dalam penga-malan dan penerapan ajaran yang telah diterimanya dari guru;
  • Menghilangkan rasa gila kedudukan dan pangkat;
  • Selalu merasa takut kepada Alloh dan mengharap ampunan-NYA dan merasa bahwa amal ibadahnya tiada artinya tanpa memperoleh fadlol-NYA.
  • Selalu ber-tawadlu’ terhadap siapapun.
  • Tidak mengutarakan sirri-sirri yang diterimanya dalam mimpi atau secara langsung kepada selain gurunya atau orang-orang yang membidanginya.
  • Menentukan waktu-waktu tertentu untuk melaksanakan dzikrulloh (bermujahadah) dengan amalan yang telah ditentukan oleh gurunya tanpa menambah dan mengurangi. (Dalam Wahidiyah, misalnya mujahadah-mujahadah yang telah dibakukan mulai mujahadah 40 hari, Yaumiyah s/d Mujahadah Kubro dengan cara-cara yang telah dibimbingkan oleh Muallifnya).

Dan masih banyak lagi yang intinya ; seorang murid harus berusaha sekuat mungkin melaksanakan segala amal kebaikan yang mendorong tercapainya kesadaran kepada Alloh I, dan menjauhi segala amal kemunkaran yang menghambat jalannya kesadaran kepada Alloh I, baik bidang lahiriyah maupun bidang batiniyah.

BERPINDAH GURU

Dalam kitab Jami’ul-Ushul, hal.112, disebutkan :

قَالَ الشَّيْخُ اْلأَكْبَرُ بَهَاءُ الدِّيْنِ النَّقْسَبَنْدِى قُـدِّسَ سِرُّهُ : يَجِبُ عَلَى الشَّيْخِ إِذَا رَأَى شَيْخًا آخَرَ فَوْقَهُ أَنْ يَنْصَحََ نَفْسَهُ وَيَلـْزَمُ خِدْمَةِ ذَلِكَ الشَّيْخِ هُوَ وَتَلاَمِيْذُهُ فَإِنَّهُ صِلاَحٌ وَسَعَادَةٌ فِى حَقِّهِ وَحَقِّ أَصْحَابِهِ . وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ بِمُنْصِفٍ وَنَاصِحٍ نَفْسَُه وَلاَصَاحِبَ هِمَّةٍ بَلْ هُوَ سَاقِطُ الْهِمَّةِ وَضَعِيْفُهَا بَلْ يَكُوْنُ مُحِبـًّا لِلرِّياسَةِ وَالتَّقَدُّم ِ, وَهَذَا فِى طَرِيْقِ اللهِ نَقْصٌ أَلاَتَرَى قَوْلَهُ r لَوْ كَانَ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسَعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِى وَإِلْيَاسَ وَعِيْسَى , بَلْ كُلُّ اْلأَنْبِيَآءِ تَحْتَ شَرِيْعَةِ الرَّسُوْلِ فِى الدُّنْيَا وَفِى اْلآخِرَةِ تَحْتَ لِوآئِهِ .فَهََذَا يَنْبَغِى أَنْ تَـكُوْنَ شُيُوْخُ الطَّرِيْقِ .

(Kata Syekh Baha’uddin t. : “Bagi seorang guru yang mengetahui ada seorang guru lain yang melebihinya, maka dia dan mengajak murid-muridnya, harus menyadari tentang dirinya dan wajib berkhidmah kepada Guru yang melebihinya itu. Karena cara demikian itulah suatu kebaikan dan kebahagiaan baginya dan bagi para murid-muridnya. Jika tidak begitu (tidak berpindah Guru), berarti dia bukannya Guru yang menyadari, dan memper-hatikan para dirinya, dan bukannya guru yang bercita-cita luhur, melainkan dia seorang guru yang rendah dan lemah cita-citanya, bahkan dia seorang Guru yang gila pangkat dan kedudukan. Cara tersebut sangat mengurangi jalannya wushul kepada Alloh I; Apakah tidak mengetahui sabda Rosuululloh r: “Seandainya Nabi Musa masih hidup, pasti mengikuti Aku. Demikian pula Nabi Ilyas dan Nabi Isa. Bukankah seluruh Nabi di bawah syari’at Rosululloh r, di dunia dan di akhirat nanti semua berada di bawah bendera Beliau, r. Maka sayogyanya para Guru wushul bersikap demikian (rela pindah Guru yang lebih sempurna segala-galanya).

Lihat bulletin “Kembali” edisi 07, hal.12

إِذَارَأَيْتُ أَحَدَهُمْ أَعْرَفَ مِنِّى بِالطَّرِيْقِ تَلَمَّذْتُ بِهِ وَلَوْ كُنْتُ مَأْذُوْنًا لِى قَبْلَ ذَلِكَ مِنْ شَيْخٍ آخَرَ . ِلأَنَّ الْمَقَامَاتِ لَيْسَتْ لَهَا حدٌ يَقِفُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ

(Jika aku mengetahui ada seorang Syekh yang lebih tahu dari pada aku tentang jalan wushul kepada Alloh, aku akan berguru kepadanya sekalipun aku sudah menerima izin dari guru lainnya, karena maqom-maqom (tingkatan kesadaran kepada Alloh) itu tidak ada batas pemberhentian bagi seorang hamba).

يَنْبَغِى لِمَنْ خَدَمَ كَبِيْرًا كَامِلاً ثُمَّ فَقِدَهُ أَنْ لاَيَخْدَُمَ مَنْ دُوْنَهُ إِلاَّ إِذَا كَانَ أَكْمَلَ مِنْهُ (تقريب اللأصول)

(Bagi seorang yang sudah berkhidmah (berguru wushul) kepada pembesar waliyulloh yang kamil, setelah ditinggal wafat, seharusnya tidak berguru lagi kepada seseorang yang derajatnya lebih rendah dari pada gurunya. Kecuali sudah menemukan guru yang lebih sempurna dari pada gurunya (silakan berpindah guru)) (Taqriibul Usuul).

Wal hasil, jika ada Pengamal Wahidiyah sudah bisa menemukan seorang Guru yang bergelar “Kamil mukammail wa muwashil wal mujaddid” yang melebihi Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah t di segala bidangnya, baik bidang amalan, ajaran, dan metode pengantaran wushul kepada Alloh wa Rosuulihi r, maupun bidang batiniyahnya, maka dia harus pindah (berguru) kepadanya. Namun hal ini sangat mustahil terjadi. Adakah amalan (aurod) pengantar wushul yang lebih mudah dari pada amalan Sholawat, terutama Sholawat Wahidiyah ? Sudah atau akan adakah ajaran dalam Islam yang lebih tepat dari pada ajaran “Lillah – Billah, Lirrosuul – Birrosuul, dan seterusnya” ? Lebih-lebih seorang yang dianggap guru tersebut dari kalangan Pengamal Sholawat Wahidiyah yang sekaligus sebagai pengikut Hadlrotul Muallif t. Karena, setinggi apapun kedudukan pengamal dia tetap sebagai pengamal dan pengikut. Dan setingi-tingginya pengikut tidak akan bisa melebihi dari yang diikuti.

8

Dalam hal ini Hadlrotul Muallif Sholawat Wahidiyah t pernah ber-sabda :“Kalau ada jalan wushul kepada Alloh wa Rosulihi r, yang lebih cepat dari Sholawat Wahidiyah, saya dan keluarga saya beserta pengikut saya akan pindah ke situ”.

MEMILIH GURU

Setelah Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah t wafat, timbul berbagai keresahan di kalangan sebagian Pengamal Wahidiyah : “Siapa Guru Kamil Mukammil yang harus dipilih sebagai guru wushulnya dalam Wahidiyah?” Lalu timbul bermacam-macam sebutan. Ada sebutan “Ghouts Pengganti”, ada yang mempromosikan “Ghouts Penerus”, “Ghouts Mujaddid” dan lain-lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan dan ketaatan kepada Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah semakin luntur atau sudah “maro tingal” dengan selain Beliau t. Sungguh memprihatinkan. Meluasnya “dzauq keliru” inilah yang menjadi sumber terjadinya kemelut di kalangan masyarakat Pengamal Sholawat Wahidiyah sepeninggal Beliau Muallif t

Sehubungan memilih guru, Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah t telah memberikan peringatan jauh-jauh hari dalam berbagai kesempatan. Antara lain dalam pengajian kitab Al-Hikam, Minggu pagi di Kedunglo pada hari Ahad Legi tanggal 17 Jumadil Akhir 1397 H, atau tanggal 5 Juni 1977 yang dimuat dalam buku Pengajian Al-Hikam, edisi 01, halaman 67 – 68, terbitan tahun 1409 H / 1989 M, berbunyi :

“Seorang yang kamil mukammil dapat ditandai dalam lahiriyahnya. Yaitu antara lain dalam bidang syari’at beliau sempurna, konsekwen, tidak ada cacatnya. Hubungan dalam masyarakat, beliau tidak mengecewakan. Hubungan soal ibadah lahiriyah, juga tidak mengecewakan. Itu lahiriyah beliau. Disamping itu, batiniyah beliau otomatis senantiasa sadar kepada Alloh I, sadar dan menyadarkan orang lain. Tapi itu, batiniyah tidak mudah kelihatan orang lain atau masyarakat. Dus yang bisa ditandai soal lahiriyahnya. Soal agamanya minim tidak mengecewakan.

Lha umpamanya sekarang ada seorang yang lahiriyahnya sudah kelihatan mengecewakan, baik soal agamanya lebih-lebih maupun dalam hubungannya di dalam masyarakat, itu tidak disebuat Kamil Mukammil. Sebab pada zaman akhir mungkin saja ada orang, yang mungkin sama sekali PALSU, atau mungkin dianya belum mampu mengantarkan ke arah kesadaran kepada Alloh I. Itu mungkin sekali.

Oleh karena itu, harus berhati-hati memilih guru Kamil Mukammil. Dus mungkin sekali ada orang yang mungkin sudah sadar kepada Alloh I, memang sungguh minal’arifiin, tapi dia belum mampu mengantarkan orang lain sadar kepada Alloh I.

Dus yang dapat dipakai pedoman, soal lahiriyahnya saja. Soal agamanya tidak mengecewakan. Adapun soal batiniyahnya seseorang itu tidak mudah diketahui. Dan hubungannya dengan masyarakat juga tidak mengecewakan. Lha kalau salah satu dari kedua hubungan itu mengeewakan, berarti belum memenuhi syarat-syarat guru yang kamil mukammil, HARUS DIHINDARI !”.

Persyaratan guru yang sah mendidik murid, dalam kitab Jami’ul-Ushul lil-auliyaa, disebutkan :

وَمِنْ شُرُوْطِ الشَّـيْخِ الـّذِى يُلـْقِى الْمُرِيـْدُ إِلَيْهِ نَفْسََهُ خَمْسَةٌ : ذَوْقٌ صَرِيْحٌ وَعِلـْمٌ صَحِيْحٌ وَهِمَّة ٌ عَالِيَةٌ وَحَالَةٌ مَرْضِيَّةٌ وَبَصِـيْرَة ٌ نَافِذَة ٌ.

فمََنْ فِيْهِ خَمْسَةٌ لاَ تَصِحُّ مَشِيْخَتُهُ : اَلْجَهْلُ بـِالدِِّيْنِ , وَإِسْقَاطُ حُرْمَةِ الْمُسْلِمِيْنَ, وَالدُّخُـوْلُ فِيْمَالاَ يَعْنِى, وَاتِّبَاعُ الـْهَوَى فِى كُلِّ شَىْءٍ وَسُوْءُ الْخُلُقِ

Di antara syarat-syarat seorang Syekh yang boleh dijadikan guru wushul bagi seorang murid, ada 5 :

  • Memiliki rasa kesadaran yang jelas ;
  • Memiliki ilmu pengetahuan agama yang shohih (berdasarkan Qur-an dan Hadits) ;
  • Bercita-cita tinggi (‘indalloh war-rosuulihi r ) ;
  • Berperangai dan berperilaku yang diridloi Alloh ;
  • Memiliki penglihatan batin yang tajam ;

Orang yang memiliki 5 sifat di bawah ini tidak syah menjadi guru wushul:

  • Bodoh di bidang ilmu agama (syari’at dan aqidah) ;
  • Senang menjatuhkan (mencemarkan) kehormatan sesama muslim ;
  • Suka melakukan hal-hal yang tidak berguna ;
  • Selalu mengikuti kehendak nafsunya di segala bidang ;
  • Berperangai buruk ;

(Jamu’ul Ushuul, hal.76)

Dalam kitab Tanwiirul Quluub, hal. 525-527 disebutkan :

وَيُـشْتَرَطُ فِى الْمُرْشِدِ شُرُوْطٌ : (۱) أَنْ يَكـُوْنَ عَالِمًابِمَايَحْتــَاجُ إِلَيْهِ الْمُرِيْدُوْنَ مِنَ الْفِقْهِ وَالْعَقَائِدِ (۲) أَنْ يَكُوْنَ عَارِفًا بِكَمَالاتِ الْقُلُوْبِ وَآدَابِهَا وَآفَاتِ النُّفُوْسِ وَأَمْرَاضِهَا وَكَيْفِيَةِ حِفْظِ صِحَّتِهَا وَاعْتِدَالِهَا (۳) أَنْ يَكُـوْنَ رَءُوْفًا رَحِيْمًا بِالْمُسْلِمِيْنَ خُصُوْصًا بِالْمُرِيْدِيْنَ (۴) أَنْ يَسْتُرَ مَااطـَّلَعَ عَلَيْهِ مِنْ عُيُوْبِ الْمُرِيْدِيْنَ (۵) أَنْ يَتـَنَزََّهَ عَنْ مَالِ الْمُرِيْدِيْنَ (۶) أَنْ يَكُوْنَ مُؤْتَمِرًا بـِمَا يَأْمُرُ بـِهِ مُنْتَهـِيًا عَمَّا يَنْهَى عَنْهُ (۷) أَنْ لاَيُجَالِسَ مُرِيْدَهُ إِلاَّ قَدْرَ الْحَاجَةِ (۸) أَنْ يَكُوْنَ كَلاَمُهُ صَافــِيًا عَنْ شَوَائِبِ الْهَوَى وَالْهَزْلِ وَمَالاَ يَعْنِى (۹) أَنْ يُسَامِحَ فِى حَقَّ نَفْسِهِ فَلاَ يَكُوْنُ مُتَوَقِّعًا تَعْظِيْمَهُ وَتَوْقِيْرَهُ

(Persyaratan bagi seorang mursyid (murobbi wushul kepada Alloh I wa Rosuulihi r), antara lain :

  • Harus ‘alim dalam hal-hal yang diperlukan muridnya, baik di bidang fiqih (syari’at) atau “aqoid (tauhid/hakikot) ;
  • Harus mengetahui tentang kesempurnaan hati dan adab-adabnya, tentang afaat (perusak) jiwa dan penyakit-penyakitnya, dan dengan teori dan praktek dia mampu menjaga kesehatan dan kesetabilan muridnya ;
  • Bersifat kasih sayang terhadap sesama muslim, khususnya terhadap muridnya ;
  • Selalu menutupi aib-aib (kekurangan) yang diketahuinya pada diri murid
  • Bersih dari keinginan untuk memperoleh harta dan hak milik muridnya ;
  • Melaksanakan sesuatu yang ia perintahkan dan menjauhi sesuatu yang ia larang (selalu menjadi teladan dan contoh bagi para muridnya) ;
  • Membatasi pertemuan dengan muridnya seukuran dengan keperluan saja ;
  • Perkataannya bersih dari campuran dorongan nafsu, humor, dan sesuatu yang tidak berguna ;
  • Memberi kelonggaran kepada muridnya dalam hak dirinya sehingga dia tidak menuntut agar diagungkan dan dimuliakan dan tidak menekan muridnya di luar kemampuan ;

(Dalam kitab tersebut terdapat 24 syarat bagi mursyid (pengantar wushul). Kiranya di sini tak perlu diuraikan keseluruhannya. Dengan yang termuat ini kita sebagai pengamal Wahidiyah sudah bisa menentukan sikap kepada siapa kita harus kita harus mengakui dan menganggap sebagai “Guru Muushilatil lil-hadlrotil-‘auliyyah” ?.

Kita berkeyakinan bahwa Hadlrotul Mukarrom Romo Kyai Haji Abdoel Madjid Ma’roef Muallif Sholawat Wahidiyah t. memiliki dan memenuhi persyaratan sebagai Guru wushul kepada Alloh I wa Rosulihi r, seperti di atas, karena :

  • Dzauq (kesadaran Billah) Beliau tidak disangsikan lagi, sebab Beliaulah justru yang memasyarakatkan Billah.
  • Ilmu pengetahuan Beliau bagaikan samudra yang tak berpantai. Redaksi Sholawat Wahidiyah dan rangkuman Ajaran Wahidiyah merupakan sebagian bukti dari betapa ‘allamah Beliau.
  • Beliau memiliki “Himmatun ‘aliyyah” (bercita-cita yang sangat tingi). Hal ini terbukti dengan wujudnya Perjuangan “Fafirru Ilallooh”, kembalinya ummat masyarakat kepada Alloh Yang Maha Tinggi ! sasaran dan obyek perjuangan Wahidiyah adalah “jami’al ‘alamin dan kaffatal linnaas”. Perjuangan Wahidiyah “tidak pandang bulu”. Merupakan bukti nyata betapa Rouf Rohim Beliau terhadap ummat dan masyarakat. Beliau merealisasikan fungsi Rosuululloh r yang “Rohmatal lil “alamiin”.
  • Perilaku dan akhlak Beliau, adalah Al Qur-an dan Hadits – Beliau ber-takhalluq bi-akhlaaqir Rosul r . Tidak seorangpun yang dikecewakan Beliau. Terhadap siapapun sekalipun orang yang kontras Wahidiyah, Beliau tidak memandangnya sebagai musuh, melainkan mengang-gapnya sebagai “kawan seperjuangan”. Di dalam membentuk Lembaga Khidmah Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW), Beliau adalah “Organisator yang ulung, administrator yang rapi, teliti dan cermat, manager yang cakap, adil dan bijaksana”.
  • Bashiroh (pandangan batiniyah Beliau sangat tajam. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagi pengalaman yang dialami oleh para Pengamal Wahidiyah.

Pendek kata, Beliau adalah cermin dari “Uswatun hasanah” suri tauladan yang baik, yang dimiliki Rosuulullooh r, bagi mereka yang menginginkan sadar kembali kepada Alloh I Wa-Rosuulihi r, khususnya bagi para Pengamal Sholawat Wahidiyah.

Oleh karena itu, sangatlah tidak Wahidiyawi (berjiwa Wahidiyah) jika setelah Beliau wafat ada Pengamal Wahidiyah yang membingung-kan diri, ber-maro tingal dan beralih pandang kepasa si A, si B sebagai guru wushul, lebih-lebih memandangnya sebagai “Ghouts”, dan lain sebagainya !. Perlu memohon ampunan dan dimohonkan ampunan kepada Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah t ! Mudah-mudahan tidak berlarut-larut, dan segera kembali ke arah pandangan guru yang benar yakni Beliau Hadlrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah t . Sehingga besok di akhirat tidak terkejut dan menyesal pada peristiwa yang dialaminya.

Dalam kitab Alloh-Ibriiz, hal. 210, disebutkan :

إِِذَاكَانَتْ مَحَبَّةُ الْمُرِيْدِ مِنْ نُوْرِإِيْمَانِهِ أَمَدَّهُ الشَّيْخُ حَضَرَ أَوْغــَابَ بَلْ وَلَوْ مَاتَ وَمَرَّتْ عَلَيْهِ آلآفٌ مِنَ السِّنِيْنَ. وَمَنْ هُنَاكَـانَ أَوْلِيآءُ اللهِ كُلَّ قَرْنٍ يَسْتَمِدُّوْنَ مِنْ نُوْرِإِيْمَانـِهِمْ بِالنَّبِىِّr وَيُرَبِّيْهــِمْ وَيُُرْقـِيْهـِمْ ِلأَنَّ مَحَبَّتـَهُمْ فِيْهِ r مَحَبَّةٌ صَافِيَةٌ خَالِصَـةٌ مِنْ نُوْرِ ِإِيـْمَانــِهِمْ.وَإِنْ كـَانَتْ مَحَبَّة ُ الْمُرِِيدِ فِى الشَّيْخِ مِنْ ذَاتِ الْمُرِ ْيدِ لاَمِنْ نُوْرِ إِيْمَانِهِ كَمَحَبَّةِ الْوَالِدِعَلَى الْوَلَدِ أَوْمَحَبَّةِ الْـمَرْأَةِ عَلــَى زَوْجِهَا أَوِالْعَكْسِ انْـتَفَعَ مَادَامَ حَاضِرًا فَإِنْ غَابَ الذَّاتُ عَنِ الذَّاتِ وَقَعَ اْلإِنــْقِطـَاعُ

(Ketika cinta seorang murid terhadap gurunya timbul dari nur keima-nannya (keyakinan atas kebesaran gurunya), maka tarbiyah guru tetap mengalir kepadanya, baik ketika bertemu maupun berpisah, bahkan sekalipun gurunya sudah wafat beberapa ribu tahun. Dari sinilan para waliyulloh di sepanjang masa selalu memperoleh bimbingan karena nur keimanannya kepada Kanjeng Nabi, r, dan ditarbiyah serta ditingkatkan oleh Beliau, r. Karena cintanya kepada Rosululloh, r, merupakan cinta yang bersih murni, semata-mata timbul dari cahaya keimanannya. Jika cinta murid terhadap guru wushulnya itu timbulnya dari jiwanya sendiri, tidak dari nur keyakinannya, seperti cintanya orang tua kepada anaknya atau cintanya suami kepada istrinya atau sebaliknya maka dia bisa mengambil kemanfaatan dari gurunya hanya ketika dia bertemu. Dan jika berpisah dari gurunya lebih-lebih setelah ditinggal wafat, maka seketika itu pula terputuslah tarbiyah dari guru wushulnya kepadanya).

MUTTABA’AH ATAU MENGIKUT

Firman Alloh Subhanahu wata’alaa dalam surat Al-Imron :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبـِعُوْنِـى يُحْبِبْكُـمُ الله ُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ, وَالله ُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.

(Katakanlah (Muhammad) : jika kamu sekalian mencintai Alloh seharusnya kamu mengikuti aku, niscaya Alloh akan mencintai dan memberi ampunan kepada kamu sekalian, dan Alloh itu Maha Pemberi Ampunan dan Maha Penyayang).

Firman Alloh dalam surat Luqman, 15 :

وَاتَّبِـعْ سَبِيْلَ مَنْ أ َنَابَ إ ِلَىَّ

(Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepada-KU).

Firmah Alloh I, dalam surat Muhammad, 3 :

وَأَنَّ الَّذِيٍْنَ آمَــنُوا اتَّـبَـعُوا الْحَـقَّ مِنْ رَبِّهــِمْ

(Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman selalu mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka).

Firman Alloh I, dalam surat Al A’rof, 158 :

وَاتَّـبـِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

(Dan ikutilah Dia (Rosuululloh) niscaya kamu sekalian mendapat petunjuk).

Firman Alloh I, dalam surat Thoha, 123 :

فَمَنْ تَبـِعَ هُدَاىَ فَلاتَيَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى

(Barang siapa mengikuti petunjuk-KU dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka).

Firman Alloh I, dalam surat Al An’am, 153 :

وَإِنَّ هَذاصِرَاطِى مُسْتـَقِيْمًافَاتَّبِعُوْهُ ج وَلاَتَـتَّبِعُواالسُّــبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ

(Dan bahwa (yang kami ajarkan) ini adalah jalan-KU yang lurus. Maka ikutilah itu : dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Alloh).

Imam Mujahid mengartikan “as-subulu” dengan segala macam penyimpangan dan ajaran-ajaran yang tidak benar/tidak mendasar.

Firman Alloh I dalam surat An-Nisaa’, 115 :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِمَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَـنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا

(Dan barang siapa menentang Rosul sesudah jelas baginya petunjuk dan kebenaran dan ia mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, maka KAMI biarkan, ia berlarut-larut dalam kesesatan yang telah ia dikuasainya itu, dan akan KAMI masukkan dia kedalam neraka jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali”.

Imam Asy-Syadzali berkata : “Aku bertemu Rosululloh, r lalu aku bertanya : “Yaa Rosulalloh, apakah hakekatnya mutaba’ah itu ?” Beliau menjawab : “Melihat matbu’ (yang diikuti) kapanpun dan dimanapun”. (Taqriibul Ushuul, hal. 55, / Sa’adatud Daroini, hal.35/ Kuliah Wahidiyah hal. 48).

Dalam kitab Tanwiirul Quluub dijelaskan ; bahwa tidak akan bisa tercapai derajat yang tinggi di sisi Alloh kecuali mengikuti Nabi r.

Adapun “ittiba’ur Rosul” itu ada dua macam :

  1. Mengikuti atau ittiba’ lahiriyah, seperti sholat, zakat, dan seterusnya (melakukan sunnah-sunnahnya).
  2. Mengikuti atau ittiba’ batiniyah, merasa berkumpul dengan Beliau r, di manapun dan kapan saja.

Ketika kamu melaksanakan sholat, membaca Al-Qur-an, membaca dzikir, atau umumnya melaksanakan tho’at, kok di situ kamu tidak merasa bersama/melihat Rosulullooh r, ketahuilah bahwa kamu terkena penyakit bathin yang berupa ujub, riya’ takabbur, sum’ah, dan lain-lainnya. Sedang-kan Alloh r berfirman yang artinya (kurang lebih) : “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di atas bumi tanpa alasan yang haq dari ayat-ayat-KU (petunju-KU). (Al-A’roof, 146)

Muttaba’ah yang tepat itu dapat mejadi sebabnya si tabi’ (pengikut) menjadi kelompok atau sebahagian dari si matbu’, sekalipun belum pernah bertemu secara lahiriyah, berjauhan tempatnya, atau sudah ditinggal wafat dalam jangka waktu beberapa tahun. Begitu juga sebaliknya. Tidak tepatnya muttaba’ah itu akan menjadikan penyebab putusnya hubungan batiniyah antara matbu’ (orang yang diikuti) dengan orang yang mengikutinya (tabi’), kendatipun diantara keduanya secara lahiriyah berdekatan (berkumpul), ada hubungan nasab atau keluarga. Hal ini sebagaimana do’a Nabi Ibrohim, u, yang difirmankan Alloh dalam Al Qur-an, surat Ibrahim, ayat 36 :

فَمَنْ تَبـِعَنِى فَإ ِنَّهُ مِنـّــِى وَمَنْ عَصَانِى فَإ ِنَّكَ غَفُوْرٌرَحِيْمٌ

(…….maka barang siapa mengikuti aku, sesungguhnya dialah golonganku, dan barang siapa mendurhakai aku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Pengakuan Rosululloh r, terhadap Salman Al Farisy (seorang sahabat yang berasal dari negeri Paris) sebagai keluarga Beliau, dengan sabdanya :

سَلْمَانُ مِنَّا أ َهْلُ الْبَيْتِ . رواه الطبرانى والحاكم عن عمروبن عوف

(Salmah adalah keluarga kami) (H.R. Thobaroni dan Hakim, dari ‘Amrin bin ‘Auf).

Mari kita simak peristiwa yang telah terjadi di antara Nabi Nuh u, dengan putranya (Kan’an) yang tidak mau muttaba’ah. Peristiwa tersebut difirmankan dalam surat Hud ayat 42-46 sebagai berikut :

وَهِيَ تَجْر ِي بـِهِمْ فِي مَوْج ٍ كَالْجِبَال ِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يابُـنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلا َ تَكُن مَّعَ الــْكَافـِر ِيْنَ

(Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan nabi Nuh memanggil anaknya, sedang anaknya itu berada di tempat yang jauh terpencil : “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَآءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الـْمَوْجُ فـَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

Anaknya menjawab : “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjaga aku dari air bah !”. Nabi Nuh berkata : “Tidak ada yang bisa melindungi hari ini dari adzab Alloh selain Alloh (saja) Yang Maha Peyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya : maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang di tenggelamkan. (Ayat 43).

وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِـي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنـْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

(Dan Nabi Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata : Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji engkau itulah yang benar, dan engkaulah seadil-adilnya Hakim”). (Ayat 45)

قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

Alloh berfirman : “Sesungguhnya dia (Kan’an) bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (permo-honan Nabi Nuh tersebut) suatu perbuatan yang tidak benar). (Ayat 46)

Dengan ini, mari kita berkoreksi diri. Sudahkah kita mengikuti (mutaba’ah) kepada Rosulullooh, r wa Ghoutsi Haadaz Zaman, Murobbi kita Muallif Sholawat Wahidiyah t . atau belum ? Kalau sudah masih perlu kita koreksi lebih teliti lagi. Sudah tepatkah mutaba’ah kita atau masih bercampur dengan kedok-kedok nafsu yang terselubung ? Kalau sudah tepat harus disyukuri dan disadari bahwa itu semua semata-mata karena fadlol Alloh I, syafa’at tarbiyah Rosululloh r, dan nadhroh Ghoutsi Hadzaz Zaman, Ra. dan harus berusaha menjaga dan meningkatkannya. Namun kalau belum, lebih-lebih terasa benar dalam kesesatan kita, harus segera memperbaiki diri, bertaubat, kembali ke jalan yang benar, mengikuti tuntunan dan Ajaran Wahidiyah, mengikuti dan menyadari terh