PANDUAN SINGKAT PELAKSANAAN MUJAHADAH USBU’IYAH & SYAHRIYAH

BAB I
PENDAHULUAN

Diantara mujahadah-mujahadah yang dibakukan dalam Wahidiyah adalah Mujahadah Usbu’iyah dan Syahriyah. Kita sadari kenyataan selama ini pelaksanaan mujahadah-mujahadah tersebut di sebagian daerah (PSW Desa / Kecamatan) masih kurang tertib dan sering tertunda-tunda waktu pelaksanaannya. Oleh karena itu agar mujahadah-mujahadah tersebut terlaksana sesuai dengan bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Qoddasallohu sirroh wa Radliyallohu ’anhu perlu adanya panduan, ketentuan dan penjadualan dalam pelaksanaannya.

BAB II
L A N D A S A N

Landasan panduan ini antara lain :
1. Ajaran Wahidiyah.
2. Fatwa, amanat dan bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyallohu ‘anhu, tertutama yang berkaitan dengan pelaksanaan mujahadah-mujahadah Wahidiyah.
3. AD PSW BAB I Pasal 1 Ayat (4) d. & ART PSW, BAB XII, Pasal 44, dan 45 huruf c & d
4. Buku Tuntunan Mujahadah terbitan DPP PSW tahun 2009. Bagian ke 3, angka 2 dan 7.

BAB III
PENYELENGGARA

1. Penyelenggara/penanggungjawab pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyah adalah PSW Desa, dan Mujahadah Syahriyah adalah PSW Kecamatan dan bisa membentuk Panitia Pelaksana apabila diperlukan.
2. Panitia pelaksana bertanggungjawab kepada penyelenggara yang membentuknya dan membuat laporan pelaksanaan acara secara tertulis kepada Ketua PSW Kecamatan (Penyelenggara) dan tembusannya kepada Ketua DPC PSW.

BAB IV
P E L A K S A N A A N

A. MUJAHADAH USBU’IYAH
1. Mujahadah Usbu’iyah adalah Mujahadah berjama’ah Pengamal Sholawat Wahidiyah se Desa/kampung/Jama’ah/Lingkungan; setiap satu minggu (7 hari) sekali.
2. Di suatu desa/kampung/lingkungan yang sudah ada pengamal Wahidiyahnya sekalipun baru beberapa orang/keluarga supaya mengadakan Mujahadah Usbu’iyah sendiri/tidak hanya bergabung dengan desa/kampung lainnya.
3. Tempat Mujahadah Usbu’iyyah boleh menetap di suatu tempat, akan tetapi lebih dianjurkan berpindah-pindah dari rumah ke rumah.
4. Berangkat menuju tempat Usbu’iyyah seyogjanya bersama-sama dengan teman lain.Sehingga menyinggahi (Jawa : ngampiri) satu sama lain.
5. Jika situasi mengizinkan supaya diadakan sendiri-sendiri :
 MUJAHADAH USBU’IYAH KAUM BAPAK,
 MUJAHADAH USBU’IYAH KAUM IBU,
 MUJAHADAH USBU’IYAH REMAJA dan
 MUJAHADAH USBU’IYAH KANAK-KANAK.
Jika belum mungkin usahakan seluruh pengamal Wahidiyah se kampung/lingkungan/ desa, baik kaum bapak, ibu, remaja, dan kanak-kanak aktif mengikuti Mujahadah Usbu’iyah bersama-sama.
6. Sebelum pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyah supaya diadakan persiapan lahir bathin sebaik-baiknya; misalnya : diadakan Mujahadah khusus penyongsongan, mengatur tempat, pengaturan petugas acara dan lain sebagainya.
7. Imam Mujahadah Usbu’iyah supaya bergilir dari kalangan pengamal Wahidiyah se kampung/desa/lingkungan, baik pria, wanita, remaja dan kanak-kanak.
8. Aurad (bacaan) Mujahadah Usbu’iyyah menggunakan bilangan 7-17 (Lihat Lampiran ke I), kecuali ada ketentuan dari DPP PSW yang oleh Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra. Diserahi tugas mengatur kenbijaksanaan dan melaksanakan bimbingan yang bersifat umum.
9. Dianjurkan pada Mujahadah Usbu’iyyah diadakan pengajian/pembahasan bidang syariat (terutama yang pokok-pokok yang berkaitan dengan syarat, rukun, dan syahnya kewajiban syariat sehari-hari), pembacaan/pembahasan buku-buku Wahidiyah, terutama buku KULIAH WAHIDIYAH atau Pengajian AlHikam oleh Hadlrotul Mukarram Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra. sehabis Mujahadah 7-17 dan sebelum pelaksanaan nida’ 4 penjuru.
10. Mujahadah Usbu’iyyah tidak harus menghadap ke arah qiblat tetapi juga tidak dilarang. Lazimnya bermuwajahah (saling berhadapan) dan Insya Alloh cara ini ada ciri-ciri khusus dan banyak manfaatnya; antara lain, bisa terjadi sorot-menyorot bathiniyah antara satu dengan yang lain.
Muhahadah berjamaah yang menghadap ke arah qiblat umumnya Mujahadah yang dilaksanakan sehabis sholat maktubah atau sholat sunnat berjamaah, atau mujahadah yang bertempat di Masjid/Musholla/langgar, atau jika ada suatu kepentingan.
Adapun Mujahadah perorangan (sendiri-sendiri) lebih utama jika menghadap ke arah qiblat, kecuali jika situasi tidak mengijinkan.
11. Yang sudah hadir lebih dahulu, sambil menunggu kehadiran yang lain supaya langsung “tasyafu’an” bersama-sama dengan adab yang sebaik-baiknya
Jika menggunakan pengeras suara, mikrofon, jangan dimonopoli oleh satu dua suara saja. Semua suara supaya bisa masuk dengan suara yang serempak dan seragam terkecuali untuk memberi aba-aba.
Lagu “tasyaffu” harus seragam mengikuti tuntunan yang diberikan oleh Hadlrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah, Rodliyalloohu’anhu. Tidak boleh membuat ghoyah atau fariasi sendiri. Yang mengetahui kesalahan mengenai lagu (juga mengenahi keseragaman Mujahadah) berkewajiban memperingatkan dengan cara bijaksana. Bagi yang sukar untuk mengadakan penyesuaian, jangan berada di dekat mikrofon, atau untuk sementara waktu tidak boleh memimpin lagu “tasyaffu” atau menjadi Imam Mujahadah. Supaya kekeliruannya tidak menular kepada yang lain.
12. Jika Mujahadah sudah dimulai, tasyafu’an diakhiri dengan “AL-FAATIHAH !” (membaca Fatihah bersama satu kali) atau membaca “YAA SAYYIDI YAA ROSUU-LALLOOH” bersama-sama tiga kali, kemudian diteruskan “YAA AYYUHAL GHOUTS.” (juga dilagukan satu kali) kemudian membaca”AL-FAATIHAH satu kali.
Selanjutnya pimpinan/Imam Jama’ah, wakilnya atau protokol, tanpa komentar macam-macam, memberitahukan dan mengajak hadirin hadirot untuk segera memulai Mujahadah dan mempersilahkan kepada petugas Imam Mujahadah yang telah ditentukan.
Contoh :
“Pada hadirin hadirot ! Mujahadah segera kita dimulai. Untuk kali ini yang bertugas sebagai imam mujahadah ialah Bapak/Ibu/sdr………………………….. Kepadanya (kepada Beliau) dipersilahkan.
13. Jika sehabis Mujahadah ada acara, misalnya “Kuliah Wahidiyah” atau pembacaan/pembahasan buku-buku Wahidiyah/kitab-kitab bidang syari’at/fiqih atau ada musyawarah, maka NIDA’ berdiri ke arah empat penjuru dilakukan sesudah selesainya acara-acara tersebut.
14. Pengisi Kuliah Wahidiyah/pengajian dalam Usbu’iyyah bisa dari lingkungan jamaah sendiri atau dari lainnya.
15. Pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyyah Kanak-Kanak, boleh dilaksanakan dengan bentuk acara untuk pelatihan. Lebih jelasnya periksa buku “PANDUAN PEMBINAAN KANAK-KANAK WAHIDIYAH”.

B. MUJAHADAH SYAHRIYAH

1. MUJAHADAH SYAHRIYAH (Bulanan/Lapanan) seyogjanya dilaksanakan dalam bentuk “ACARA WAHIDIYAH” dengan thema disesuaikan situasi dan kondisi saat itu.
2. Penyelenggara/Penanggungjawab Mujahadah Syahriyah/Lapanan adalah Pengurus Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) tingkat Kecamatan.
3. Mujahadah Syahriyah (bulanan/lapanan) supaya diikuti oleh seluruh Pengamal Sholawat Wahidiyah se-kecamatan : pria, wanita, remaja dan kanak-kanak. Sebaiknya juga mengundang Penyiar/Pengamal Wahidiyah Kecamatan tetangga serta simpatisan dan tokoh-tokoh agama/masyarakat setempat.
Disamping Mujahadah Syahriyah/Lapanan secara lengkap seperti di atas, jika situasi memungkinkan supaya diselenggarakan pula Mujahadah khusus kaum Ibu, remaja, kanak-kanak. Masing-masing Pembina yang bersangkutan sebagai penyelenggara/ penanggung jawabnya dengan sepengetahuan/mendapat dukungan dari Pengurus PSW Kecamatannya. Jika tidak mungkin, bisa menjadi satu seperti di atas, tetapi pemegang acaranya supaya bergilir antara kaum bapak/ibu/remaja/kanak-kanak.
4. Apabila karena suatu ‘udzur tidak bisa melaksanakan Mujahadah Syahriyah dengan bentuk “ACARA/RESEPSI” PSW Kecamatan supaya mengadakan Gerakan Mujahadah Serempak bagi seluruh Pengamal Wahidiyah di kecamatannya yang bertempat di tempat/Jama’ah masing-masing pada saat yang ditentukan untuk pelaksanaan Mujahadah Syahriyah. (Usahakan jangan sampai ada bulan yang tertinggal/tidak ada Mujahadah Syahriyah di suatu Kecamatan yang sudah ada Pengamal/Jama’ah Wahidiyahnya, sekalipun baru sedikit.
5. Untuk memudahkan pengkordiniran dan menghindari benturan waktu kegiatan-kegiatan yang lain, Ketua DPC PSW (Bidang Penyiaran & Pembinaan) dengan dibantu Pengurus lainnya supaya membuat JADWAL SYAHRIYAH satu Tahun untuk PSW Kecamatan se Kabupaten/Kota. (Cara pembuatannya bisa meniru/mencontoh JADWAL MUJAHADAH RUBU’USSANAH” yang dikeluarkan oleh DPP PSW)
6. Sekurang-kurangnya tiga hari sebelum pelaksanaan Mujahadah Syahriyah supaya diadakan “MUJAHADAH KHUSUS PENYONGSONGAN” di seluruh Jama’ah se kecamatan, dan sehari semalam (sehari sebelum pelaksanaannya) supaya diadakan “MUJAHADAH NON STOP/ESTAFET”. Pembagian jadwalnya diatur oleh PSW TK. Kec. /Panitia pelaksana. Aurad Mujahadah Penyngsongan menggunakan bilangan 7-17 tiga kali khataman dan aurad Mujahadah nonstop dapat menggunakan “AURAD MUJAHADAH PENINGKATAN & PENYIARAN ” Lihat “Lampiran II”!
7. Kerangka Acara dalam Mujahadah Syahriyyah antara lain :
a. Pembukaan
b. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an (Tilawatil Qur’an)
c. Muqoddimah Sholawat Wahidiyah
d. Prakata panitia
e. Sambutan-sambutan :
 Pimpinan DPC PSW
 Kepala desa (yang berketepatan)
 MUSPIKA (Penjabat Tingkat kecamatan) atau Tokoh Agama setempat.
f. Kuliah Wahidiyah dan Mujahadah
g. Penutup dan nida’

Keterangan :
(1) Jika situasi memungkinkan susunan acara bisa ditambah Mujahadah 7-17 satu kali khataman atau Mujahadahnya Pengisi Kuliah Wahidiyah terakhir menggunakan bilangan 7- 17.
(2) Jika situasi memerlukan dan memungkinkan bisa ditambah tetrjemah Al-Qur’an, diklamasi/puisi Wahidiyah. Adapun bacaan Tahlil hanya diadakan jika bersamaan dengan haul seseorang.
8. Bagi Pengamal Wahidiyah di Kecamatan tersebut apabila terpaksa (karena udzur) tidak bisa hadir ke tempat acara Mujahadah Syahriyah, supaya mengikuti/makmum dari tempat di mana dia berada. Begitu juga pada saat pelaksanaan acara-acara lainya.

BAB IV
P E N U T U P

1. Hal-hal yang belum cukup diuraikan dalam Panduan ini, diatur lebih lanjut oleh DPP PSW dan atau Pengurus PSW yang bersangkutan bisa mengambil kebijaksanaan selama tidak menyimpang dari Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyallohu ‘anhu dan aturan dalam PSW.
2. PSW yang bersangkutan supaya mengambil langkah-langkah positif demi terlaksananya Mujahadah-mujahadah tersebut dengan lancar, tertib dan aman.
3. Mudah-mudahan Panduan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya terutama bagi Pengurus PSW yang bersangkutan dalam Perjuangan Fafirruu Ilalloh Wa Rosuulih, Shollallohu ‘alaihiwasallam, serta memperoleh ridlo Alloh Wa Rosuulihi, Shollallohu ‘alaihiwasallam, wa Ghoutsi Haadzaz Zaman Rodliyallohu ‘anhu, Fid-diini waddun-ya wal akhiroh. Amiin.