PERAN WASIAT MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH TANGGAL 9 MEI 1986 DALAM PERJUANGAN FAFIRRUU ILALLOOH WA ROSUULIHI SAW

Hadrotul Mukarrom Mbah Yai Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh, sudah sejak awal penyiaran Sholawat Wahidiyah tahun 1963 secara bijaksana telah memilih bentuk kepanitiaan, wadah organisasi sebagai lembaga khidmah yang Beliau isi, Beliau beri tanggungjawab serta Beliau bimbing dalam mengatur kebijaksanaan san sekaligus memimpin pelaksanaan pengaamalan, penyiaran dan pembinaan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah.

Pada waktu itu, yakni kira-kira pada tahun 1963 organisasi tersebut yang diberi nama “PANITIA PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” dilahirkan di dalam lingkungan masyarakat Pengamal Wahidiyah yang masih dalam keterbatasan yang jauh dari pengalaman dan pengetahuan tentang berorganisasi, lebih-lebih bidang manajemen. Namun, bimbingan Hadrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah dengan menerapkan konsep al-Qur’an dan Al Hadits, mampu menumbuh kembangkan dan mendewasakan PANITIA PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH yang kemudian hari berganti nama menjadi “Penyiar Sholawat Wahidiyah  Pusat”. Dalam pertumbuhannya, Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat juga tidak begitu saja terlepas dari kendala-kendala dan hambatan-hambatan. Namun alhamdulillah, bekat bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah, berkat Ajaran Wahidiyah, segalanya dapat diatasi dengan baik, betapapun tebalnya kemelut yang menyelimuti. Bahkan justru oleh Muallif Sholawat Wahidiyah dijadikan sebagai kendaraan Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam para Pengamal Wahidiyah yang kemudian memantulkan semangat juang dan tanggungjawab yang tinggi di dalam kelembagaan khidmah Perjuangan Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan da kita garis bawahi dai kepemipinan Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh di dalam membimbing dan mendewasakan Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat dan umumnya para Pengamwal Wahidiyah :

  1. Firman Alloh dalm surat3 Ali Imron : 159 :

فبمارحـمة مـن الله لــنت لـهـم ولــو كــنت فــظا غـلــيظ الـقـلــب لانـفــضـوا مـن حــولك فاعـف عنــهم واسـتــغـفــر لهم وشاورهم فى الامـر فاذا عــزمت فـتــوكل عـلى الله ان الله يــحب المــتــوكـــــــلين

( 3- ال عمران 159)

Artinya :

Maka dengan rahmat daro Alloh-lah kamu bersikap lunak dan lemah lembut kepada mereka : dan sekiranya kami bersikap keras kepala lagi kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekilingmu, maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampunanlah mereka dan ajaklah bermusyawarah dalam urusan mereka : maka apabila kamu sudah membulatkan keputusan (atau sikap), maka bertawakkallah kepada Alloh; sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal.

Dari ayat tersebut ada tiga hal yang perlu kita teladani dan kita terapkan sebagai modal dasar seorang pemimpin. Yaitu satu, “LINTA LAHUM”- berpenampilan lunak, lemah lembut, ramah tamah tawadlu’, menaruh hormat dan menghargai siapapun. Ke dua, “FA’FU ANHUM WASTAGHFIR LAHUM” – pemaaf dan suka memintakan maaf untuk orang lain. Ke tiga, “WA SYAAWIRHUM FIL AMRI” – bermusyawarah dan rela mengorbankan pendapat pribadi untuk mengikuti pendapat terbanyak serta konsekwen menjalankannya. Ke empat, “FATAWAKKAL ALALLOH” – tawakkal pasrah kepada Alloh, tidak mengandalkan usahanya.

Ke dua : Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam surat No. 5 Al Maidah : 2

(وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الاثم والعدوان (5-المائدة : 2

Artinya :

Dan tolomh menolonglah kamu sekalian dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.

Ke tiga : Surat No. 3 Ali Imron : 103

(واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتقربوا (3-ال عمران : 103

Artinya :

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Alloh dan janganlah kamu sekalian bercerai-berai.

“HABLULLOH” di dalam Wahidiyah kami rasa bisa diartikan “Kesadaran Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”. Jadi menjaga kesatuan, persatuan dan kekompakan.

قرب والف بيننا ياربنا

Orang yang tidak kompak namanya “SYADZ”. Muallif Sholawat Wahidiyah pernah mendawuhkan Hadits :

(من شذ شذ فى النار (الحديث

Artinya :

Barang siapa yang SYADZ atau menyendiri, dia akan menyendiri di neraka.

Ke empat : Surat No. 59 Al Hasyr : 9

(ويؤثرون على انفسهم ولو كان بهم خصاصة ( 59-الحشر : 9

Arti bebas :

Dan mereka lebih mengutamakan pihak lain dari pada diri sendiri, seklaipun diri sendiri dalam  kesusahan atau kesulitan.

Dari tahun-ketahun di bawah bimbingan dan restu Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh, Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat beberapa kali diadakan renovasi perbaikan. Baik mengenai personalia, mengenai struktur dan tatalaksana kerjanya. Yaitu mengikuti dinamika kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang sedang memacu diri dalam era pembangunan bangsa dan negara dan untuk memenuhi kebutuhan Perjuangan Wahidiyah itu sendiri.

Pada pertengahan bukan Deember 1985 diadakan “MUSYAWARAH KUBRO WAHIDIYAH I”. Musyawarah Kubro Wahidiyah I ini menghasilkan Garis-garis Pokok Arah Perjuangan Wahidiyah, memilih Ketua dan Wakil Ketua Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat dan memilih Ketua dan Anggota “MAJELLIS PERTIMBANGAN PERJUANGAN WAHIDIYAH” yang kemudian hari dikenal dengan sebutan “DEWAN PERTIMBANGAN PERJUANGAN WAHIDIYAH” disingkat “DEWAN”. Jadi sejak itu di Pusat lahirnya Sholawat Wahidiyah Kedunglo Kediri ada dua lembaga. Yaitu PSW Pusat dan Dewan.

Diharapkan dengan adanya dua lembaga itu Perjuangan Wahidiyah akan lebih maju dan berkembang. Kedua lembaga bisa saling isi mengisi dan bantu membantu. Namun dalam praktek, sesudah ada Dewan justru mulai timbul gesekan-gesekan sosial di Pusat Wahidiyah Kedunglo Kediri. Kedua lembaga tidak bisa bekerjasama secara sinkrun. Dari hari-kehari ketimpangan sosial itu menggejala ke arah perpecahan. Sementara itu di lingkungan Pondok Kedunglo pun mulai ada lagi beberapa persoalan yang juga bisa mengganggu Perjuangan Wahidiyah. dengan arif bijaksana Hadrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh secara langsung menunjuk dan menugasi sebuah tem yang dikenal dengan “TEAM-3”, terdiri dari h Mohammad Syifa, KH Ihsan Mahin dan K Moh. Djazuly Yusuf. Ditugasi untuk menyelesaikan berbagai problem yang ada di Pusat Kegiatan Wahidiyah Kedunglo Kediri. Team-3 ini bekerja ata spetunjuk langsung dari Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh dan bebas tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan siapapun.

Dalam rangka mengemban tugasnya, Team-3 mengundang sluruh personil Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, Dewan, beberapa Penyiar Sholawat Wahidiyah Kab/Ko dan beberapa Pengamal Wahidiyah yang telibat persoalan. Yaitu pada tanggal 9 Mei 1986, haru Kumat atau Sabtu kalau tidak salah, dan hadir memenuhi undangan tersebut kurang lebih 115 orang. Pada penutupan persidangan yang dipimpin langsung oleh Team-3, Hadrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh berkenan memberikan fatwa dan amanat. Pada pembukaan fatwa Beliau, Beliau mengutarakan kata-kata kurang lebih :

“……. dan terutama kalau terpaksa kami meninggalkan dunia yang fana ini”. Itulah dasarnya, maka fatwa amanat tersbut lalu kita namakan “WASIAT MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH 9 MEI 1986”.

Isi dari pada wasiat tersbut yang pokok menyangkut tiga hal. Yaitu Pondok Kedunglo, kemudian SMP dan SMA Wahidiyah, dan ke tiga Sholawat Wahidiyah.

Wasiat Beliau yang mengenai Wahidiyah sekalipun Beliau mendawuhkam dengan gaya bahasa merendah tadzallul dan sebagainya biasanya sebagai ciri tarbiyyah Wahidiyah, namun jiwa dari pada wasiat tersebut mempunyai makna yang tinggi dan mendalam, dan bernada keras !. artinya, mengandung peringatan dan ancaman !. dalam wasiat itu Beliau mengnangkat semua Pengamal Wahidiyah sebagai Wakil Beliau.  Wakil Beliau yang harus melestarikan Perjuangan Kesadaran Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. Wakil Beliau dalam perjuangan Wahidiyah yang  harus bertanggungjawab kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, dan juga kepa Muallif Sholawat Wahidiyah sebagai Muwakkil.

الوكيل اثير الموكل

Artinya :

Wakil adalah kepanjangan tangan atau foto copy muawakkil.

Kemudian Beliau memberikan “waleran” atau pagar yang sama sekali tidak boleh dilanggar oleh para wakil.  Di samping itubeliau juga menunjuk beberapa nama pesonil untuk beliau tugaskan mengerjakan tugas-tugas dalam kelembagaan PSW Pusat. Pada bagianakhir Wasiat Beliau, Beliau memberikan peringatan keras bahwa semacam sangsi terhadap siapa saja yang tidak mengindahkan kepentingan Perjuangan Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam padahal ada kemampuan dan kesempatan.

Adapun mengenai wasiat yang berhubungan dengan Pondik Keunglo dan SMP dan SMA Wahidiyah, sekalipun para Pengamal Wahidiyah tidak mempunyai keterkaitan secara langsung, namun makna yang tersirat di dalam wasiat 9 Mei 1986 tersebut membimbing para Pengamal Wahidiyah untuk mempunyai kepedulian Wahidiyah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dengan kata lain para Pengamal Wahidiyah dan utamanya PSW semua tingkat khususnya PSW Pusat mempunyai kewajiban moral untuk ikut “cawe-cawe” agar dapatnya Wasiat tersebut terwujud. Masalahnya hanya terletak kepada pcara dan kebijakan di dalam cawe-cawe itu. Muallif Sholawat Wahidiyah Rodliyalloohu Anhu wa Qoddasalloohu Sirroh mendawuhkan masalah Pondok Kedunglo dan SMP dan SMA Wahidiyah di dalam forum pertemuan para Pengamal Wahidiyah dan PSW Pusat, tentu ada maksudnya dan mengandung makna tarbiyyah Wahidiyah. di samping itu, Pondok Kedunglo mempunyai makna historis sebagai tempat lahirnya Sholawat Wahidiyah, dan SMP dan SMA Wahidiyah sebagai lembaga pendidikan juga mempunyai fungsi mendidik kader-kader Wahidiyah. dengan demikian warna dan rupa Pondok Kedunglo dan SMP-SMA Wahidiyah tidak bisa lepas dari tanggungjawab moral para Pengamal Wahidiyah pada umumnya dan PSW khususnya, uatamanya PSW Pusat.

KESIMPULAN :

  1. Wasial 9 Mei 1986 merupakan “motor penggerak” roda Perjuangan Kesadaran Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.
  2. Wasial 9 Mei 1986 dapat dijadikan sebagai “tongkat komando” strategi Perjuangan Wahidiyah.
  3. Wasial 9 Mei 1986 merupakan sumber dasar hukum dan kebijakan dalam Perjuangan Wahidiyah.
  4. Wasial 9 Mei 1986 memiliki “peluang bagus” bagi peningkatan kesadaran Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.