WASIAT MUALIF SHOLAWAT WAHIDIYAH 7&9 MEI 1986 (VERSI TEKS)

WASIAT 7 MEI 1986

Keterangan :

Pada tanggal 7 Mei 1986 Team 3 suatu team yang dibentuk oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah yang terdiri dari KH. Ihsan Mahin, K. Moh. Jazuli Yusuf, dan H. Mohammad Syifa. Yang ditugasi oleh dan bertanggung jawab langsung kepada Muallif Sholawat Wahidiyah untuk mencari penyeselesaian berbagai permasalahan yang timbul di Kedunglo saat itu, sowan menghadap Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Melaporkan persiapan akan mengumpulkan orang-orang/pihak yang terkait dalam berbagai permasalahan dan memohon restu dan petunjuk. Pada pesowanan itu Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah memberikan dawuh-dawuh yang gamblang tentang Pondok Kedunglo dan tentang Wahidiyah.

Mohammad Ruhan Sanusi, Ketua PSW Pusat waktu itu ikut serta dalam pesowanan tersebut, dan merekam dengan tape semua pembicaraan. Antara lain tentang Wahidiyah adalah sebagai berikut :

“Lha mengenai Wahidiyah, puniko kulo aturaken, Wahidiyah meniko kados dene perjuangan Islam umumipun. Perjuangan Islam puniko lak boten diwaris tho nggih? Perjuanga Islam puniko mboten, mboten dipun waris. Ingkang kulo suwun sageto terus bersatu wiwit sak puniko ngantos sak terusipun !. Kecuali menawi sampun dipun usahaaken dengan segala kemampuan yang ada, kok boten saget, …………. mboten saget dipun atasi, kecuali menawi ngaten, inggih lajeng nyumanggaaken dateng sederek-sederek ingkang bade merjuangaken Wahidiyah.

Kados dene perjuangan Islam, mestinipun saking, nuwun sewu sakeng Kanjeng Nabi piyambak lak bersatu tho kawontenanipun? Tapi lajeng wonten bermacam-macam puniko karena boten saget dipun atasi tho nggih? Inggih mugi-mugi mawon terus bersatu! Lan mestinipun anu ………,menurut perhitungan Wahidiyah puniko perjuangan kesadaran. Mestinipun langkung…………… anu dari pada perjuangan sanes, menawi mboten ngaten, puniko lak, …………. lak mengejutkan sekali tho nggih?……..”

Tarjemah :

Lha mengenai Wahidiyah itu, saya sampaikan, Wahidiyah itu seperti perjuangan Islam pada umumnya. Perjuangan Islam itu kan tidak diwaris tho ? Perjuangan Islam itu tidak, tidak diwaris. Yang saya minta harap terus bersatu dari sekarang sampai seterusnya ! Kecuali jika setelah diusahakan dengan segala kemampuan yang ada, kok tidak bisa…… tidak bisa diatasi, kecuali kalau begitu, ya terserah kepada bapak-bapak yang akan memperjuangaken Wahidiyah.

Seperti perjuangan Islam, mestinipun dari, mohon maaf, dari Baginda Nabi sendiri kan bersatu tho keberadaannya?. Tetapi kemudian lalu timbul bermacam-macam itu karena tidak bisa diatasi, kan ? Ya mudah-mudahan terus bersatu ! Dan mestinya anu……., menurut perhitungan Wahidiyah itu perjuangan kesadaran. Mestinya lebih……. anu dari pada perjuangan lain. Jika tidak begitu, berarti kan,…… kan mengejutkan sekali, kan?

WASIAT 9 MEI 1986

Keterangan :

Pada tanggal 9 Mei 1986 bertepatan 30 Sya’ban 1406 H hari Sabtu, atas undangan Team-3 diadakan persidangan, sebagai upaya akhir mengadakan islah atas berbagai permasalahan yang timbul di Kedunglo. Persidangan ini dihadiri oleh + 115 orang, terdiri dari Pengurus PSW Pusat, Pengurus PSW Jawa Timur, PSW Kab./Ko Kediri, PSW Kab. Trenggalek, PSW Kab. Malang, beberapa keluarga Kedunglo dan orang-orang yang ada kaitannya dengan berbagai masalah waktu itu. Persidangan dipimpin oleh Team-3. Alhamdulillah islah berhasil dengan baik. Pada akhir persidangan, mohon fatwa amanat kepada hadrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Di bawah ini, transkrip fatwa beliau tersebut yang selanjutnya dinamakan “Wasiat 9 Mei 1986” karena di dalamnya ada kalimat “Yaa maaf…… dan terutama saya meninggalkan dunia yang fanak ini nanti”.

REKAMAN : FATWA & WASIAT MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH

TANGGAL 30 SYA’BAN 1406 H ( 9 MEI 1986 M )

TEMPAT DI DALEM SELATAN KEDUNGLO KEDIRI

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكمُ ْوَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهْ

اَلْـحَمْـدُ ِللهِ الـذَّىِ كَــرَّمَــنـَا

W بِالْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ حَبِيْــبِنَا

اَلْحَــمْـدُ لِلَّهِ الَّــذِى اَتـَــانـَا

W بِالـْوَاحـِدِيَّةِ بِفـَضْــلِ رَبِّنَا

يَا شَافِعَ الْخَــلْـقِ حَـبِيْبَ اللهِ

W صَلاَتُهُ عَلَيْكَ مَعْ ســَــلاَمِهِ

ضَلَّتْ وَضَلَّتْ حِيْلَتِى فِى بَلْدَتِى

W خُذْ بِيَدِى يَاسَيِّــدِى وَاْلاُمَّةِ

يَا سَيِّدِى يَا رَسُولَ اللهِ

يَا رَبَـــّنَا الَّلهُمَّ صَـلِّ سَلِّمِ

W

عَلَى مُحَمَّــدٍ شَفِيْعِ اْلاُمـَمِ

وَ اْلآلِ وَاجْعَلِ اْلاَناَمَ مُسْرِعِيْنْ

W

بِالْوَاحِدِيَّةِ لِرَبِّ الْعَالَـمِينْ

يَا رَبَّنَا اغْفِرْ يَسِّرْ اِفْتَحْ وَاهْدِنَا

W قَرِّبْ وَاَلِـّفْ بَيْنَنَا يَا رَبَّنَا

أَمَّا بَعْدُ

Al-Mukarromiin wal Mukarromaat beliau Bapak Kyai Ihsan Mahin, Bapak Kyai Jazuly, Bapak Haji Syifa sebagai Team, dan para hadirin hadirot yang kami hormati sebagai undangan dari Team, undangan untuk musyawarah yang kita maklumi dan kita laksanakan !.

Pertama-tama kami memanjatkan puja dan puji tasyakkur kepada Alloh SWT biqouli “Alhamdulillahi Robbil ’Alamin” yang mana dari kita bersama mengadakan musyawaroh ada berhasil dengan baik, …. Ya sekalipun ada … ini dan itu, tapi toh akhirnya dengan baik. Yah mudah-mudahan musyawarah yang kita laksanakan benar-benar diridloi Alloh Wa Rosuulihi SAW !.

Terima kasih atas kepercayaan, ya maaf, beliau bapak tiga team dan para bapak para ibu pada saya untuk mengisi acara yang telah ditugaskan pada saya ini.

Para hadirin hadirot yang kami mulyakan !.

Sebelum saya melanjutkan acara, saya harap dengan sangat satu kali saja, …. Yalah : Al-Faatihah !.

Ya, harap diijinken, saya mendahului yaitu soal anu, soal yang tadi insya Alloh tidak ada hubungannya dengan acara ini. Tapi sekalipun begitu, saya minta diperkenankan untuk bicara di sini. Dan saya mohon restu pada para hadirin hadirot, apa-apa yang saya bicarakan ini nanti, benar-benar diridloi Alloh SWT.

Dan ….. ya maaf, … dan terutama kalau terpaksa kami meninggalkan dunia yang fana ini nanti.

Yaitu satu, PONDOK KEDUNGLO.

Ini adalah peninggalan orang tua saya. Tapi ya sayangnya pada waktu itu, saya sendirian. Dan insya Alloh tidak satu kali saja. Yaitu saya dikatakan, yang maksudnya :

“ANU JID, KOWE KARO MALIK TAK WEHI IKI, KOWE KIDUL MALIK LOR, KUWI MAKSUDE KANGGE NGURIP-NGURIP PONDOK LAN MESJID”.

Terjemah:

“Anu Jid, engkau dengan Malik aku beri ini, engkau sebelah selatan Malik sebelah utara. Itu maksudnya buat menghidup-hidupkan pondok dan masjid”.

Jadi ini berarti, bidang puniko dipikulkan pada saya dan saudara, adik saya yaitu Malik bapaknya Yahya. Dan otomatis bukan materiilnya saja, tapi moril dan materiil. Saya dan Abdul Malik ketika itu. Tapi ya sayang, bapaknya Yahya itu meninggal lebih dulu daripada ayah saya. Jadi setelah ayah meninggal, saya, hanya saya. Dan ini otomatis saya harus memikul, atau bertanggungjawab soal moril dan materiil yang hubungan dengan pondok dan mesjid. Dan ini mestinya, kalau adik saya Malik itu sudah meninggal, mestinya anaknya, yaitu Yahya. Apabila dia sudah dewasa, mestinya. Jadi dua orang ini, saya dan Yahya. Ini fifty-fifty mestinya. Tapi ya maaf pada Yahya, karena selama ini, semenjak Yahya dewasa, saya belum pernah mengutarakan soal ini. Jadi saya terus yang anu, yang mengemudikan mesjid dan pondok ini.

Mestinya, kalau sepeninggal saya, nanti keluarga saya, di samping Yahya. Setengah-setengah atau separo-separo. Kalau Yahya hanya satu, dan anak saya dan istri saya dua, ya maaf ya, anak saya berapa ?. ini mestinya, cara pembagian seperti waris mestinya. Tanggung jawab, hak dan kewajibannya, mestinya sama. Jadi kalau Yahya umpamanya, saya … anu, Pak Ruhan pernah saya … anu, ya dengan bergurau, … saya katakan … ini begitu memang. Ini kalau cara adilnya. Lain kalau kompromi. Nanti, kalau kompromi, lain lagi. Kalau adilnya, … dan mestinya ya, … ya mudah-mudahan senantiasa dapat kompromi, nanti !. kalau tidak dapat, terpaksa tidak dapat kompromi, yaitu tadi harus dibagi dua. Yang satu, yang 50 % Yahya, yang 50 % saya, atau sepeninggal saya, … anak-anak saya semua, putra dan putri, dan istri saya. Ini juga mempunyai hak dan kewajiban. Ini soal pondok dan mesjid. Tapi dulu ketika itu, masih mesjid yang lama dan pondok yang lama itu. Barangkali semua, atau sebagian besar sudah tahu.

(Lantas soal SMA dan SMP) sekarang.

Itu ketika anu, … ketika baru didirikan, itu Yahya dan pak Mahrus datang, kalau tidak salah, datang menemui saya. Saya disodori blanko yang supaya neken. Yaitu, diadakan SMP dan SMA, asal tidak, yaitu bertentangan dengan hukum agama dan hukum negara, begitu kalau tidak salah. Atau dengan kata lain insya Alloh, asal tidak merugikan kedudukan mesjid dan pondok, saya ijinkan. Waktu itu kalau tidak salah, yaitu pak Mahrus dan Yahya.

Jadi nanti, ya mudah-mudahan semuanya ini senantiasa dapat kompromi dengan maslahat dan baik. Tapi kalau terpaksa ya itu tadi, caranya yang adil, begitu tadi.

Soal Wahidiyah

Seperti kita maklumi bersama atau sebagian besar, yaitu di buku Wahidiyah ada barangkali.

Pertama, saya mendapat alamat, satu dua dan tiga.

Lantas pada waktu itu saya usaha bermacam-macam.

Tapi yang terakhir, saya menyusun sholawat.

Jadi tegasnya, saya ditugaskan, ya maaf, ini untuk anu, ya … apa adanya. Untuk ditugaskan, seperti yang … itu.

Jadi ya … maaf para hadirin hadirot !! Dan para Penyiar semua ini, ya, boleh dikatakan wakil saya.

“Al-Wakil atsiirul muwakkil”.

Di, …, tidak ada, atau terutama ada persoalan, muwakkil kuasa penuh !.

Yaa, … maaf ya, ini !. Ya mudah-mudahan saya tidak diliputi oleh Linnafsi Binnafsi !.

Sekarang ya maaf, secara ringkas !.

Ya maaf para bapak para ibu hadirin hadirot, ini ya maaf, saya, … saya akan anu … akan menawarkan.

Masih sanggup menjadi wakil sayakah atau tidak ?

(hadirin serempak “SANGGUUUP”, dengan suara tangis gemuruh)

Ya maaf, ini tidak paksaan !.

Kalau sudah tidak sanggup, ya silahkan !.

Insya Alloh makhluq lain banyak yang …. mendaftarkan diri, insya Alloh !.

Boleh dicoba, kalau … ! tapi awas !!!.

Ya maaf, sekali lagi.

Masih sanggupkah menjadi wakil saya ?

(hadirin teriak “SANGGUUUP”!)

Al-Faatihah

Adapun selama ini, ya maaf, para bapak para ibu dengan mati-matian berjuang untuk melaksanakan sebagai “muwakkalah” atau wakil, kami bungkem seribu satu bahasa !. kami hanya dapat, hanya mampu menyatakan ribuan terima kasih pada para hadirin dan hadirot. Dan hanya dapat menghaturkan satu dua patah kata permohonan pada Alloh SWT untuk para hadirin hadirot.

جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرَاتِ وَسَعَادَاتِ الدُّنْيَا وَالأَخِرَةْ !

Sekali lagi, ya maaf.

Masih sanggupkah hadirin hadirot ?

Yah, para hadirin hadirot, ya maklum, apabila para hadirin hadirot rela menjadi wakil saya, yalah tidak ada apa-apanya. Kecuali hanya, ya keberatan-keberatan dan pengorbanan-pengorbanan. Tidak ada imbal baliknya sama sekali, para hadirin hadirot !. Sebelumnya saya utarakan, sama sekali saya tidak punya apa-apa untuk, untuk memberi imbal balik kepada hadirin hadirot !. (gemuruh tangis hadirin hadirot).

Para hadirin dan hadirot yang kami mulyakan !.

Tapi maaf, saya untuk ya, para hadirin hadirot menerima dengan rela hati dengan gembira menjadi wakil saya. Tapi ya maaf, saya ada, syarat-syarat yang harus dipenuhi !.

Yaitu, segala sesuatu yang negatif, yang telah terjadi ini, supaya dibuang sama sekali !!!.

Sekali lagi perbuatan-perbuatan yang maupun ucapan-ucapan yang tidak, … yang bertentangan dengan Ajaran Wahidiyah ini, supaya di….. dihilangkan sama sekali !!!. terutama yang berhubungan dengan perjuangan !.

Sanggupkah para hadirin hadirot ?!

Tuhan yang Tahu !

Tuhan sebagai Saksi, …. Yang Agung !

Dan, dan di lain itu, kalau ya maaf, para hadirin hadirot rela dan gembira menjadi wakil saya, saya suruh apa saja apakah mau, para hadirin hadirot ?. (hadirin, “mau !”).

Saya tidak maksa pada hadirin hadirot !

Kalau tidak sanggup, ya silahkan !.

Kalau sanggup, ya terima kasih sekali !.

Sekali lagi, yaitu

‘KALAU SANGGUP MENJADI WAKIL SAYA, SUPAYA SEGALA PERBUATAN DAN PERKATAAN, MAUPUN APA SAJA, YANG MERUGIKAN PERJUANGAN TERUTAMA, YANG MEN-JADIKAN FITNAH TERUTAMA, INI SUPAYA DIBUANG SAMA SEKALI !

maukah para hadirin hadirot, dan bersedia ?

(hadirin : “mau !”)

Dan anjuran supaya senantiasa, saling memperingatkan dengan bijaksana !.

Ya sekali lagi maaf, supaya saling memperingatkan dengan bijaksana ! Karena, ya seperti kita maklumi, tidak mau memperingatkan, sedang situasi membutuhkan, ini berarti merugikan pada pribadi yang tidak mau, dan orang yang tidak diperingatkan ! atau dengan kata lain, ini bertentangan dengan Ajaran Wahidiyah !

Ya maaf pada yang bersangkutan !

Kami minta dengan hormat dan sangat, terutama secara umum, ya bapak para hadirin dan para ibu yang semua, yang kami hormati, ini menyanggupkan diri untuk menajdi wakil saya. Dan pada bapak atau ibu yang bersangkutan, sekarang kami mau menunjuk. Kiranya apa ada yang keberatan umpama ada salah satu yang saya tunjuk supaya begini begitu umpamanya ?.

(hadirin gemuruh : “TIDAK/SEDIA”)

Alhamdulillah !. terima kasih sekali.

Yaitu satu pada beliau bapak Badri. Saya minta supaya duduk di wakil Pusat. Kerna yaitu, asalnya pimpinan pusat hanya dua, yaitu beliau bapak Ruhan Sanusi dan beliau bapak Kyai Jazuly. Dan saya mohon supaya, dengan rela hati suka duduk di situ. Jadi 3 orang. Ya mudah-mudahan menjadi bermanfaat barokah.

Dan buat sekretaris, kami mohon yang bersangkutan, yaitu bapak Mahrus supaya menjadi Sekretaris I. Dan Yahya menjadi Sekretaris II. Jadi dibalik. Sanggupkah para bapak yang bersangkutan ? ya Alhamdulillah. Matur kasuwun. AL FAATIHAH !.

Selanjutnya saya mohon pada Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, terutama Dewan, supaya lebih, lebih banyak jauh lebih maju daripada yang sudah-sudah, dalam segala bidang!.

Sekali lagi dari Penyiar Sholawat Wahidiyah, terutama dari Dewan, kami harap dengan sangat dan sungguh-sungguh supaya jauh lebih meningkat dari pada yang sudah-sudah!. Dalam segala bidang!.

Ya maaf !. Dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, apabila perlu, kami berhak untuk, … anu, para hadirin-hadirot !. bahkan lebih glonjom, bahkan lebih parah !. Kami berhak secara mutlak !. Lebih-lebih ada persoalannya !.

Ya maaf !. Ini bukan sombong!

Ini, saya menyatakan sesungguhnya apa yang ada !.

Ya maaf !. Adapun keputusan-keputusan yang telah dibicarakan selama ini tadi, kiranya kalau tidak dapat diumumkan sekarang, mungkin lain waktu mungkin, ya lihat situasi. Barangkali begitu barangkali.

Dan kiranya mari kita tutup yaitu dengan permohonan-permohonan kepada Alloh SWT. Dan mari membulatkan tekat, tobat min yaumina hadza ila yaumil qiyaamah, tidak akan mengulangi kembali soal-soal yang, yang tidak diridloi oleh Alloh SWT !. Soal apa saja !. Perbuatan apa saja !. Perkataan apa saja!. Dan mari para hadirin hadirot, kita mohon pada Alloh SWT wa Rosuulihi !.

الفاتحه

عَلَيْكَ نُوْرَ الْخَلْقِ هَادِىَ الأَنَامْ

W

يَا شَافِعَ الْخَلْقِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمْ

فَـقَدْ ظِلِـــمْتُ أَبَدًا وَّرَبّـِـنِي

W

وَأَصْـــلَهُ وَرُوْحَــــهُ أَدْرِكْـــِني

فَإِنْ تَرُدَّ كُـْنُت شَخْصًا هَـالِكَا

W

وَلَيْسَ لِى يَا سَـيِّدِىْ سِــوَاكَا

يَاسَـيّدِ ىْ يَارَسُـْولَ الله × 7

عَــلَيـْكَ رَبّـِــنِىْ بِإِذْنِ اللهِْ

W

يَآ أَيـُّهَا الْغَـــوْثُ سَــــلاَمُ اللهِْ

مُوْصِـــلَةٍ لِّلْحَضْـرَةِ الْعَلِيَّةِْ

W

وَانْــظُـرْ إِلَيَّ سَـيّدِىْ بِنَــــظْرَةٍْ

صَـــلاَتُه عَلَيْكَ مَعْ سَـلاَمِهِ

W

يَاشَــافعَ الْخَــلْـِق حَــبيْبَ اللهِ

خُـــذْ بِيَدِىْ يَاسَيّدِىْ وَالأُمَّةِ

W ضَلَّتْ وَضَلَّتْ حِيْلَتِىْ فِى بَلْدَتِىْ
يَاسَـيّدِ ىْ يَارَسُـْولَ الله × 7

عَلَى مُحَـمَّدٍ شَفِـــيْعِ الأُمَـمِ

W

يَا رَبَّنَا اللَّــهُمَّ صَـــلِّ سَــلِّمِ

بِالْـوَاحِـدِيَّةِ لِرَبِّ الْعَالَمِـيْن

W

وَالآلِ وَاجْعَلِ الأَنَامَ مُسْـرِعِيْن

قَـرِّبْ وَأَلِّــفْ بِيـْنَنَا يَارَبَّـنَا

W

يَا رَبَّنَا اغْـفِرْ يَسِّرِ افْتَحْ وَاهْدِنَا

الفاتحه

Ya maaf, termasuk kata-kata saya tadi, dan saya ulangi kembali sebagian, yaitu setelah bubarnya musyawaroh ini, dari kita jangan ada yang membicarakan soal-soal seperti biasa !. Biasanya habis musyawaroh itu ada saja, yang tidak setuju ya begini, yang setuju begitu !. Ini semua supaya tutup mulut!. Yang tidak setuju terutama !. Tapi saya yakin semua setuju, menerima !. Semua menerima permintaan saya !.

Dan masih satu lagi!.

Yaitu sekarang dan, sekalipun saya sudah tidak ada, hendaknya perjuangan Fafirruu Ilalloh Wa Rosuulihi ini senantiasa menjadi satu !!!.

Dan sini karena tempat lahirnya perjuangan, saya harap supaya tempat seperti yang, untuk acara yang seperti Mujahadah Kubro dan lain-lainnya, supaya hendaknya bertempat disini !!!. Kalau tidak ada udzur yang tidak dapat dielakkan!.

Dan kemudian kami atas…. ya terima kasih sekali pada para hadirin hadirot dan pihak team. Dan untuk menghemat wekdal, kami hanya dapat, ya, ya selamat jalan!. Dan salam-salam!. Ya mari saling do’a mendo’akan!. Saling memaafkan!. Ya mudah mudahan seperti sekarang ini terutama di akhirot nanti, bisa menjadi satu!, dibelakang Rosuululloohi SAW, dibelakang Ghoutsu hadzaz zaman RA, sowan dihadapan Alloh SWT!.

Sekian !. Wassalaamu ‘alaikum Wa Rohmatulloohi Wa Barokaatuh!.

Pemindahan dari rekaman kaset menjadi tulisan, sesuai dengan apa adanya oleh: Moh. Ruhan Sanusi, Ketua PSW Pusat tahun 1985 – 1986

Dikoreksi oleh:

Mantan Team -3 yang ditunjuk langsung oleh Muallif Sholawat Wahidiyah (1986-1987):

  1. Haji Mohammad Syifa : ………………………………
  2. Kyai Haji Ihsan Mahin : ………………………………
  3. Kyai Moh. Jazuly Yusuf : …………………………….

 

 

 

 

‘KALAU SANGGUP MENJADI WAKIL SAYA, SUPAYA SEGALA PERBUATAN DAN PERKATAAN, MAUPUN APA SAJA, YANG MERUGIKAN PERJUANGAN TERUTAMA, YANG MENJADIKAN FITNAH TERUTAMA, INI SUPAYA DIBUANG SAMA SEKALI !