Jumat, Desember 2
Shadow

Mujahadah Usbu’iyah (Mingguan)

Mujahadah Usbu’iyah (Mingguan)

Apa itu Mujahadah Usbu’iyah?

Mujahadah Usbu’iyah adalah mujahadah yang dilaksanakan secara berjama’ah tiap seminggu sekali oleh Pengamal Wahidiyah se desa / kelurahan / lingkungan. Penyelenggara / penanggungjawabnya adalah Pengurus PSW Desa / Kelurahan. Di desa, kampung, atau lingkungan yang sudah ada pengamal Wahidiyahnya sekalipun hanya beberapa orang / keluarga supaya mengadakan Mujahadah Usbu’iyah sendiri. Tidak hanya bergabung dengan desa / kampung lainnya.

Tempat Mujahadah Usbu’iyyah boleh menetap di suatu tempat, akan tetapi lebih dianjurkan berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Antara lain seperti sabda Rosululloh .

(زَيِّنُوْا مَجَالِسَكُمْ بالصَّلاَةِ عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ عَلَيَّ نُوْرٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ في مُسْنَدِ الْفِرْدَوْسِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ

“Hiasilah ruang tempat duduk kamu sekalian dengan bacaan sholawat kepadaku, maka sesungguhnya bacaan sholawat kalian kepadaku itu menjadi cahaya pada hari qiyamat” (HR. Dailami dalam Musnadil-Firdaus, dari Ibnu Umar Ra.)

 

Siapa Pelaksana Mujahadah Usbui’yah?

Berangkat menuju tempat Mujahadah Usbu’iyah seyogjanya bersama-sama dengan teman lain. Sehingga saling menying-gahi (Jawa: ngampiri) satu sama lain. Jika situasi mengizinkan, Penyiar Sholawat Wahidiyah desa supaya mengadakan Mujahadah Uabu’iyah sendiri-sendiri artinya terpisah antara:

  • Kaum bapak,
  • Kaum ibu,
  • Remaja dan
  • Kanak-kanak

Jika belum mungkin usahakan seluruh pengamal Wahidiyah desa, sekampung, atau lingkungan, baik kaum bapak, ibu, remaja, dan kanak-kanak mengikuti Mujahadah Usbu’iyah bersama-sama.

Petugas acara atau imam mujahadah dan pengamal lain supaya mengadakan persiapan lahir barin yang sebaik-baiknya sebelum pelaksanaan Mujahadah Usbu’iyah. Imam Mujahadah Usbu’iyah supaya bergilir dari kalangan peng-amal Wahidiyah sedesa, sekampung, atau lingkungan, baik pria, wanita, remaja dan kanak-kanak.

 

Bagaimana Aurod Mujahadah Usbui’yah?

Aurad Mujahadah Usbu’iyah seharusnya menggunakan bilangan 7 – 17 atau menggunakan Aurod Mujahadah lain dengan ketentuan yang telah mendapatkan kesepakatan bersama oleh seluruh jama’ah, atau ada ketentuan lain dari DPP PSW.

 

Bagaimana Adab dalam Mujahadah Usbui’yah?

Mujahadah Usbu’iyah tidak harus menghadap ke arah kiblat tetapi juga tidak apa pelarangan. Lazimnya bermuwajahah (saling berhadapan), dan Insya Alloh cara seperti ini ada ciri-ciri khusus dan banyak manfaatnya, antara lain bisa terjadi sorot-menyorot batiniyah antara satu dengan yang lain.

Mujahadah berjamaah yang lazimnya menghadap ke arah qiblat antara lain: mujahadah sehabis sholat maktubah / sholat sunnat, atau mujahadah yang bertempat di masjid / musholla atau jika ada suatu kepentingan. Adapun mujahadah perorangan (sendirian) lebih utama jika menghadap ke arah qiblat, kecuali situasi tidak mengizinkan.

Bagi pengamal yang sudah hadir lebih dahulu, sambil menunggu kehadiran yang lain supaya langsung “tasyafu’an” bersama-sama dengan adab yang sebaik-baiknya. Jika Mujahadah sudah akan dimulai, tasyafu’an diakhiri dengan “Al-Faatihah” (membaca surat Fatihah bersama satu kali) atau membaca “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH” bersama-sama tiga kali, diteruskan dengan bacaan “YAA AYYUHAL GHOUTSU SALAAMULLOOHI” (dilagukan satu kali, kemudian membaca ”AL-FAATIHAH” satu kali.

Selanjutnya pimpinan / Imam jama’ah, wakilnya atau yang mendapatkan tugas, segera memberitahukan dan mengajak hadirin hadirot untuk segera memulai mujahadah dan mempersilahkan kepada petugas Imam Mujahadah yang telah ditentukan.

Contoh:  “Para hadirin hadirot ! Mujahadah Usbu’iyah ini mari segera kita mulai. Dan mari kita berusaha menerapkan LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL, LILGHOUTS BILGHOUTS, Kepada yang bertugas sebagai imam mujahadah, Bapak / Ibu / sdr………..…. kami persilahkan.

Urutan acara dalam Mujahadah Usbu’iyah :

  1. Tasyaffu’ dan Istighotsah;
  2. Mujahadah bilangan 7-17;
  3. Sebaiknya mengadakan pembacaan buku-buku Wahidiyah, atau lain-lain sesuai keperluan.
  4. Penutup nida’.

Pembaca buku-buku Wahidiyah atau lainnya dalam Mujahadah Usbu’iyah bisa dari lingkungan jama’ah sendiri.