Rabu, Oktober 5
Shadow

Adab Batiniyah dalam Mujahadah

Adab sangat diperlukan dalam segala perilaku manusia dalam segala bidang, baik yang berhubungan dengan Allah dan Rosulullah maupun dengan sesama manusia atau makhluk yang lainnya. Adab secara etimologi berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak atau

اجْـتِمـَـاعُ  خــِصـَـالِ الــْـخـَــيـْـرِ

“terpadunya pekerti yang baik (lahir dan batin)”.

Pelaksanaan adab ini timbul dari perangai yang baik atau ahlaqul karimah. Karena pentingnya memperhatikan adab, banyak peringatan tentang adab dan akhlak baik dalam Al-Qur’an, Al-Hadits maupun Aqwalul Ulama. Seperti firman Allah dalam surah Al-Qolam ketika memuji Rosul-Nya

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ (68 – الـقـلم :4)

“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S 68-Al-qolam: 4).

Sabda Nabi :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ (رواه احمد والبيهقي عن ابن هريرة )

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur (HR.Ahmad, Baihaqi dan Hakim dari Abi Huroiroh).

Syekh Abu Ali Ar-Raudzabari Rohimahulloh berkata:

الــْمَرْءُ يـَدْخُلُ الــْجَنَّـةَ بــِعـَـمَلـِهِ  وَيــَصـِلُ  إ ِلــَى  الله ِ بــِأَدَبــِه ِ  ( المجا لس السنية : 58)

“Seseorang masuk surga karena amalnya dan bisa wushul (sadar) kepada Alloh karena adabnya” (Al-Majalisus Syaniyah, hal 58)

Dalam bermujahadah, hendaknya pengamal Sholawat Wahidiyah memperhatikan adab baik adab yang bersifat lahiriyah seperti posisi, gestur, dan tempat mujahadah maupun adab batiniyah seperti menjiwai mujahadah dengan lillah, billah dst. Berikut ini adab batiniyah yang perlu diterapkan dalam pelaksanaan mujahadah:

Ajaran Wahidiyah

Melaksanakan mujahadan dengan menerapkan ajaran Wahidiyah, yakni lillah, billah

Baca juga artikel Ajaran Wahidiyah

Hudlur

Hudlur artinya hati senantiasa berkonsentrasi kepada Allah. Seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW:

الإ ِ حْسَانُ  أَنْ تــَعْبُدَ اللهَ  كــَأَ نــَّكَ تـَرَاهُ   فــَإ ِنْ لــَمْ  تــَكـــُـنْ  تــَرَاهُ   فــَإ ِ نـــَّهُ يــَرَا كَ (رواه البخاري و مسلم عن ابي هريرة رضى الله عنه )

“Penerapan ihsan yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, maka apabila belum bisa  sadarilah sesungguhnya  Allah melihat kamu (HR Bukhari Muslim dari Abi Hurairoh Ra).

Istidlhor

Istihdlor artinya merasa hadir di hadapan Rosulullah dengan ketulusan hati, ta’dhim (memuliakan) dan mahabbah (mencinta) sedalam-dalamnya dan semurni-murninya. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam Al-Ghozali:

وَقَبْلَ قـَوْلِكَ السـَّـلاَمُ عَلـَيْكَ أَيّــُهَاالنَّبِىُّ أَحْضِـرْشَخْصَـهُ الْـكَـرِيْمَ فِي قَلْـبـِكَ وَلْيـُصَـدّقْ أَمَلَكَ فِي أَنـَّهُ يَبـْلـُغُـهُ وَيَرُدُّعَلَيْكَ بِمَاهُوَأَوْفَى  (كــــذا في سعادة  الدرين : 223)

“Sebelum kamu mengucapkanالسـَّـــلاَمُ عَلــَيْكَ أَيـّــُهَا النَّبــِىُّ  (pada saat membaca tahiyat) hadirkan pribadi Beliau (Nabi Muhammad) yang mulia dalam hatimu dan mantapkan harapanmu bahwa salammu sampai pada Beliau dan Beliau menjawabnya dengan jawaban yang lebih tepat” (Dalam kitab Sa’adatut Daroini hal 123)

Syaikh Ibrohim At-Tajibi juga berkata :

وَاجِبٌ عَلَى مُـؤْمِنٍ مَتـَى ذَكَـرَهُ أَوْذُكِرَعِـنْدَهُ أَنْ يَخْضَـعَ وَيَتَوَقَّرَوَيَسْكُنَ مِنْ حَـرَكَتـِهِ وَيَأْخـُذَفِي هَيْبَتــِهِ وَإجـْلاَلِـهِ بِمَاكَانَ يَأْخـُـذَنَفـْسـَهُ وَيـَتَمـَلَّلَـهُ فَكَـأَنَّهُ عِنـْدَهُ وَيَتَأَدَّبَ بـِمَاأَدَّبَنـَااللهُ بـِهِ مِنْ تَعـْظـِيْمِهِ وَتَكْرِيْمِهِ ….الخ

“Setiap orang yang beriman ketika menyebut Nabi atau nama Beliau disebut, diwajibkan menunduk, memuliakan dan diam (tidak bergerak) serta berusaha mengagungkan dan memuliakan sebagaimana berhadapan langsung serta membayangkan seakan-akan berada di hadapan Beliau, dan beradab dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh ALLOH yaitu ta’dhim (mengagungkan), takrim (memuliakan)”…. dan seterusnya

Serta istidhor atau merasa hadir di hadapan Ghoutsu haadzaz Zaman. Dalam Kitab Jami’ul Ushul hal 48 :

قــَـلــْبُ  الــْعـَـارِفِ حَضـْـرَةُالله ِوَحـَوَاسُهُ أَبــْوَابــُهَا,فــَمَنْ تـَقـــَـرَّبَ إ ِلــَيْهِ بــِالــْقــُرْبِ  الــْمُلاَ ئـِم ِلــَهُ  فــُتـِحَت ْلــَهُ أَبــْوَابُ الــْحَضْرَةِ

Hatinya Orang Arif Billah itu merupakan hadlrotulloh (sadar kepada ALLOH) dan indranya sebagai pintu-pintu hadlroh. Maka barang siapa yang mendekatkan diri kepada Beliau dengan pendekatan yang serasi (sesuai) dengan kedudukan Beliau, akan terbukalah baginya pintu-pintu hadlroh”.

Tadzallul

Tadzallul artinya merendah diri merasa hina sehina-hinanya akibat perbuatan dosanya.

Dalam kitab Taqribul Ushul hal.156 disebutkan:

الإِقْبَالُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلـِهِ بِشِدَّةِالذُّلِّ وَالإِنْكِـسَارِمَعَ التـَّبَرِّى عَن الْحَـوْلِ وَالْـقُـوَّةِ أَصْلُ كُلِّ خَـيْرٍدُنْيَـوِىٍّ وَأُخـْــرَوِىٍّ

“Menghadap kepada Allah wa Rosuulihi dengan sungguh-sungguh merasa hina dan meratapi dosa-dosa serta merasa tidak mempunyai daya dan kekuatan adalah pangkal segala kebaikan dunia dan akhirot”.

Tadhollum

Tadhollum artinya merasa penuh berlumuran dosa dan banyak berbuat dholim dan dosa terhadap Allah wa Rosuulihi wa Ghoutsi haadzaz Zamaan, terhadap kedua orang tua, anak, saudara, tetangga, terhadap bangsa, negara dan sebagainya, terhadap semua makhluk yang ada hubungan hak dengan kita. Karena manusia adalah tempat dosa seperti yang terdapat dalam Firman Allah

إ ِنَّ  الإ ِ نــْسَانَ  لـــَظــَلـُـوْمٌ كــَفــَّارٌ  (14- ابرهيم: 34 )

Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur (QS. Ibrohim/14: 34).

Iftiqor

Iftiqor artinya merasa butuh sekali. Butuh terhadap maghfiroh (ampunan), perlindungan dan taufiq-hidayah ALLOH, butuh terhadap syafa’at-tarbiyah Rosulullah, butuh terhadap barokah, karomah, nadroh dan do’a  restu Ghoutsu Haadzaz Zaman wa a’waanihii wa saa-iri Auliyaa Ahbabillaah, Rodliyalloohu ta’ala ‘anhum. Sesuai dengan Firman ALLOH .

وَاللهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقـَرَآءُ  وَإِن تَتَوَلـَّوْايَسْتَبْدِلْ قَوْمًاغَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُونُواْ أَمْثَالَــكُمْ  ( 74- محمد: 38 )

“Allah Maha Kaya sedangkan kamu orang-orang yang membutuhkan-Nya. Dan jika kamu berpaling niscaya Dia mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu” (QS. Muhammad/47: 38).

Haqqul Yaqin

Haqqul yaqin artinya berkeyakinan bahwa mujahadah/do’anya dikabulkan tanpa keraguan. Seperti dalam sabda Nabi:

اُدْعُوا الله َ وَأَنــْتــُمْ مـُوْقــِنــُوْنَ بــِالإ ِجـَابَةِ وَاعْلـَمـُـوْاأ َنَّ الله َلا َيــَسْتــَجـِيْبُ دُعـَـآءً مِنْ قـَلـــْـبٍ غـَـافــِل ٍ لاَه ٍ (رواه الترمذي  والحاكم عن ابي هريرة)

Berdo’alah kepada Allah dengan berkeyakinan bahwa (do’amu) diijabahi; dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak mengijabahi do’a dari hati yang lupa dan lalai (HR. Turmudzi dan Hakim, dari Hurairoh Ra).

Sebagai pengamal Sholawat Wahidiyah, sudahkah kita melaksanakan mujahadah dengan adab-adab seperti yang dijelaskan di atas?

Tinggalkan Balasan