Rabu, Oktober 5
Shadow

Mbah Yai, Wahidiyahkah Kami?

Assalamualaikum, Mbah Yai
Salam hormat kami
Kami ingin bercerita malam ini
Meski hanya dalam mimpi
Menceritakan kabar perjuangan
Kegundahan hati, kekasih-kekasihmu
Inginku letakkan kepala ini di pangkuanmu yang hangat
Agar hilang penat dan gelisah yang pekat

Wahai pembimbing kami
Kami yang mengaku generasi penerus perjuangan mulia ini
Kami yang mengaku sanggup terbang tinggi
Berlari kencang dan mendaki untuk perjuangan ini
Berpeluh dengan kebanggaan menggelegar di dada ini
Dengan jumawa kami berteriak
Ini wahidiyah kami
Ini cahaya penerang jalan kami
Ini identitas diri kami
Padahal hasil perjuangan kami nihil

Mbah Yai, Wahidiyahkah kami?
Atas nama Wahidiyah kami selalu membenarkan sifat arogan kami
Atas nama Wahidiyah kami berbohong untuk keberadaan kami
Kami berkata, inilah lillah beginilah billah
Padahal sikap kami mengatakan, inilah linafsi beginilah binafsi

Mbah Yai, Wahidiyahkah kami?
Jika kami menang, kami cenderung sewenang wenang
Jika kami berjaya, kami cenderung menganiaya
Jika ada yang kalah, kami tak sabar ingin menjarah
Jika ada yang tak berdaya, kami ingin menistakan dan mencela

Wahai Mbah Yai, Wahidiyahkah kami
Mbah Yai, inilah ibu bapakku
Dengan senyuman dan kebanggaan telah berikrar dengan ikhlas di hadapanmu
Inilah putraku, inilah putriku
Yang terbaik dari kepunyaanku
Kugadaikan ia untuk kepentingan suci perjuangan Ilahi
Dilepaskan kami dari semua kewajiban
Dengan harapan menjadi cahaya bagi perjuangan

Bapak ibu
Harapan yang engkau semai
Telah luluh lantak kami injak injak
Kebanggaan yang engkau tanam telah hilang tenggelam
Bukannya bertaubat, kami justru maksiat
Bukannya mendukung, kami malah menelikung
Bukannya bersyiar, kami justru ingkar
Seolah-olah sibuk dalam perjuangan
Padahal kami menggunting dalam lipatan
Duhai bapak, ibu
Maafkan lah kami

Wahai teladan kami
Inilah kami
Ajarkan kami
Bagaimana cara memenangkan diri ini
Dari nafsu yang menjerat
Menundukkan diri ini dari sifat angkuh
Membersihkan diri ini dari kesombongan kedengkian dan keserakahan
Bantulah kami agar bersemi kedamaian dalam hati ini
Agar tumbuh kasih sayang dalam kalbu ini

Mbah Yai, tolonglah kami
Rengkuhlah kami
Ibu bapak kami
Saudara-saudara kami
Kawab-kawan kami

Meski hina dan tak berdaya tubuh kami
Meski berkubang najis kebodohan keingkaran dan kemunafikan
Jangan tinggalkan kami

Mengapa engka terdiam Mbah Yai?
Memandang kami dengan tetesan air mata tiada henti
Tidakkah engkau mengenali kami?
Bukan penderekmu kah kami?
Bukan Wahidiyahkah kami?
Tidak tidak Mbah Yai
Jangan tinggalkan kami
Jangan berpaling dari kami Yaa Sayyidi, Yaa Ayyuhal Ghouts
Yaa Sayyidi, Yaa Ayyuhal Ghouts

Yaa Allah
Kami bersimpuh tunduk di hadapan-Mu
Memohon ampunan atas perasaan tidak bersalah ini
Atas perasaan tidak butuh ini
Jangan biarkan hati kami tertutup noda-noda dosa
Sadarkan kami agar tetap rendah hati
Dan tidak asing dengan diri kami sendiri
Agar nurani kami tidak kalah dengan nafsu syaiton
Hingga kasih sayang kami tidak terkalahkan dengan dendam dan kebencian
Agar kami menjadi manfaat
Dan bukan menjadi laknat

Fafirru ilallah
Fafirru ilallah
Fafirru ilallah
Larilah kembali kepada Allah

Download Puisi

Tinggalkan Balasan